ACEH UTARA — Malam di Krueng Mane, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Senin (25/5/2026), seharusnya berjalan seperti biasa. Namun sejak aliran listrik kembali padam sekitar pukul 19.30 WIB, suasana berubah. Jalanan tampak lebih redup, rumah-rumah gelap, dan warga mulai bergerak menuju satu tempat yang masih menghadirkan cahaya dan harapan: warung kopi.
Di sejumlah warung kopi kawasan Krueng Mane, hampir seluruh meja dipenuhi warga. Bukan sekadar untuk menikmati secangkir kopi panas, tetapi untuk menyelamatkan baterai telepon genggam mereka yang hampir habis. Charger dan terminal listrik tambahan terlihat berserakan di sudut-sudut meja, sementara wajah-wajah lelah menanti listrik kembali menyala.
Sebagian wilayah di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara memang masih bertahan tanpa pemadaman. Namun di daerah lain, listrik padam total selama berjam-jam, membuat aktivitas masyarakat lumpuh perlahan.
Bukhari (45), salah seorang warga, mengaku terpaksa meninggalkan rumah demi mencari sumber listrik untuk ponselnya. Baginya, handphone bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga penghubung dengan keluarga dan pekerjaan.
“Di rumah sudah mati lampu beberapa jam. HP juga tinggal sedikit baterainya, jadi terpaksa ke warung kopi untuk cas sambil menunggu listrik hidup kembali,” ujarnya pelan.
Malam itu, warung kopi tak lagi sekadar tempat bersantai. Ia berubah menjadi ruang bertahan bersama. Orang-orang duduk berdekatan, saling bertanya penyebab listrik padam, berbagi informasi, hingga sekadar mengusir rasa jenuh di tengah gelap yang belum tahu kapan berakhir.
“Suasana warung kopi terlihat lebih ramai dibanding biasanya, terutama pada malam hari,” kata seorang warga lainnya.
Di balik ramainya pengunjung, ada kegelisahan yang juga dirasakan para pedagang kecil. Pemilik warung kopi di Krueng Mane, Muhaimin, mengaku jumlah pelanggan memang meningkat drastis sejak pemadaman terjadi. Namun kondisi itu tidak sepenuhnya membawa keuntungan.
Banyak bahan dagangan yang mulai rusak karena lemari pendingin tak berfungsi. Es batu cepat mencair, minuman dingin tidak lagi segar, dan stok makanan yang membutuhkan pendingin terancam terbuang sia-sia. Belum lagi biaya tambahan untuk membeli bahan bakar genset bagi pedagang yang memilikinya.
“Kalau lampu padam begini memang ramai. Ada yang datang cuma untuk cas HP, ada juga yang sekalian nongkrong,” katanya.
Namun di balik keramaian itu, Muhaimin mengaku tetap khawatir. Pendapatan dari kopi dan minuman tidak sebanding dengan kerugian akibat listrik yang terus padam berulang kali.
“Es cepat cair, minuman dingin rusak. Kalau lama begini kami juga rugi,” tambahnya.
Tidak hanya warung kopi, sejumlah pedagang makanan di Aceh Utara juga ikut terdampak. Banyak yang harus menghentikan produksi karena peralatan listrik tidak bisa digunakan. Sebagian memilih menutup lebih awal karena suasana gelap membuat pembeli enggan keluar rumah.
Hingga larut malam, warga masih berharap aliran listrik segera normal agar aktivitas masyarakat bisa kembali berjalan.
Sementara itu, Manager Komunikasi & TJSL PLN UID Aceh, Lukman Hakim mengatakan pemulihan sistem kelistrikan di wilayah sub sistem Aceh saat ini masih belum stabil sehingga beberapa wilayah kembali mengalami pemadaman.
Menurutnya, PLN terus mengoptimalkan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) untuk menopang beban kelistrikan. Tim siaga juga disebut telah dikerahkan selama 24 jam penuh di lapangan guna mempercepat pemulihan sistem.
“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang bapak/ibu alami,” ujarnya.
Di tengah gelap yang menyelimuti malam Aceh Utara, cahaya kecil dari layar-layar handphone di warung kopi menjadi penanda sederhana bahwa masyarakat masih bertahan — menunggu listrik kembali menyala, dan berharap keadaan segera pulih seperti sediakala.|MUMUL

Subscribe to my channel

