LHOKSUKON- Sore itu, Basri salah satu penyintas banjir di kompleks hunian sementara (Huntara) Desa Ulee Rubek Timu, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Jumat, (27/2/2026) sedang menunggu waktu berbuka puasa. Sebanyak 97 kepala keluarga menetap di hunian itu.
Rumahnya hancur bersama banjir pada November 2025 lalu. Desa pinggir laut itu diperparah karena waktu bersamaan dihantam pasang purnama.
Dia pun tampak tegar. Mulai kembali mengayuh perahu ke laut untuk mencari ikan sebagai mata pencarian utama.
“Kalau kekurangan ya banyak di Huntara. Yang dikasi tikar, kipas angin, kompor, alhamdulillah juga sudah dikasi. Terima kasih juga untuk BNPB,” katanya penuh syukur.
Sedangkan kasur, dipan, lemari belum diterimanya. Padahal, layanan itu menyatu dalam paket bantuan untuk penyintas banjir di Huntara.
Dia pun mengenang banjir pada November 2025 lalu, seluruh bangunan hancur di desa. Utamanya yang bersisian dengan pantai. “Kalau di pinggir jalan ya normal, seperti tidak ada musibah saja. Lihatlah ke pinggiran pantai, hancur semua,” katanya.
Sisi lain, bantuan sembilan bahan pokok baru satu kali dia menerima bantuan bahan pangan. Dia berharap, Presiden RI Prabowo Subianto segera mengintruksikan pembangunan hunian tetap untuk desanya. Sehingga bisa segera pindah dari hunian sementara itu.
“Kekurangan lain, kami kurang air bersih. Kami mohon Pak Presiden melihat kami disini serba kekurangan,” terangnya.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto menyebutkan timnya terus berkoordinasi lintas kementerian untuk mempercepat pemulihan di Aceh.
“Target kita sebelum lebaran semua Huntara sudah selesai. Kita berjuang terus agar mencapai target dengan mengkoordinasikan lintas kementerian dan lembaga”terangnya.
Untuk hunian tetap, proses pembangunan sudah dimulai, baik oleh lembaga kemanusiaan dan lintas kementerian. “Prosesnya sudah dibangun hunian tetap. Kita harap bisa cepat,” pungkasnya.
|KOMPAS

Subscribe to my channel

