LHOKSUKON – Sebanyak 50 tim Rapai Pase menabuh rapai (alat musik tradisional) di Desa Dayah Meuria, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Sabtu (25/7/2026) malam menabuh rapai secara bersamaan.
Mereka terbagi dalam dua kelompok yaitu Blah Deh Krueng (wilayah Tengah-Timur) dan Blang Nou Krueng (wilayah Tengah-Barat) Kabupaten Aceh Utara. Perhelatan akbar ini puluhan tahun tidak pernah digelar. Apalagi menyatukan 50 seniman rapai legendaris dari bekas Kerajaan Islam Samudera Pasai itu.
Prosesi seni ini diawali dengan tepung tawar seluruh alat rapai. Lalu rapai digantungkan ke atas, ukurannya satu meter persegi. Setelah itu imam desa membacakan doa, menyantuni anak yatim dan dibuka resmi oleh Sekretaris Daerah Aceh Utara Dayan Albar.
Ketua panitia Jafaruddin menyebutkan pertandingan rapai itu bukan sekadar melestarikan budaya. Namun memenuhi kerinduan para seniman rapai akan “pertarungan” menabuh rapai hingga dinihari.
Masing-masing kelompok dipimpin satu syeh yang memandu hentakan rapai. Ditabuh dengan tangan. Bagi masyarakat biasa, menabuh rapai dengan tangan ini akan menimbulkan rasa sakit. Para seniman memiliki teknik sendiri menabuh rapai dalam ukuran besar itu. Menghasilkan bunyi yang menggema dan berirama. Tanpa lirik, hanya dentuman menjadi musik tersendiri.
Rapai kerap dimainkan malam hari, berdurasi panjang, bahkan seringkali baru berhenti menjelang azan Subuh. Tradisi ini mulai berlaku sejak Kerajaan Samudera Pasai di Kabupaten Aceh Utara pada abad ke 13.
“Sudah puluhan tahun tidak ada pertandingan akbar. Kali ini kita buat untuk melestarikan budaya, mendokumentasikannya, menyajikan dalam video dan buku. Sehingga bisa diteruskan ke generasi berikutnya,” terang Jafaruddin.
Hal senada disebutkan Sekda Aceh Utara Dayan Albar. Rapai bukan sebatas seni turun temurun. Namun harus dijaga dan dilestarikan. “Agar generasi ke depan bisa dan mampu menjelaskan rapai dengan baik, bukan sebatas memainkannya,” katanya.
Dia mengapresiasi langkah dari sejumlah dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara itu untuk mendukung pelestarian dan pendokumentasian budaya.
Salah seorang syeh Rapai Rusli M Yacob menyebutkan mereka menurunkan sejumlah rapai terbaik, sebagian berusia puluhan tahun hingga satu abad. Dentuman rapai itu mencapai puluhan kilometer. Apalagi lokasi yang dipilih berada ditengah sawah. Puluhan masyarakat menyaksikannya. Lengkap dengan aneka jajanan kuliner layaknya pasar malam.
“Semoga even ini ke depan bisa berlanjut terus menerus. Pemain rapai Pase mulai menua, harus ada generasi penerus. Agar seni ini bisa berusia berabad-abad ke depan,” pungkasnya.
Jam terus merangkak ke angka kecil. Namun dentuman rapai terus menggema. Hingga pukul 3.00 WIB, rapai belum berhenti. Dan malam itu, para seniman mengeluarkan seluruh kemampuan dan tekniknya. Menghibur masyarakat sekitar sekaligus melestarikan budaya.|KCM
ACEH TIMUR – Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si., memimpin rapat bersama warga…
Semarang – PT Pupuk Indonesia (Persero) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung kemajuan olahraga nasional. Komitmen…
LHOKSUKON – Sebanyak 16 pemimpin rapaiyang terdiri syekh dan ketua grup menerima piagam penghargaan atas dedikasi danpengabdian…
LHOKSUKON – Rumoh Rapai Pase dideklarasikan dalam Pertunjukan Budaya Duel Akbar 50 Rapai Pase yang mempertemukan Blah Nou Krueng…
ACEH TIMUR – Pemerintah Kabupaten Aceh Timur melalui Baitul Mal Kabupaten Aceh Timur menggelar kegiatan…
LHOKSUKON – Gemuruh 50 Rapai Pase terdengar hingga dini hari dalam Pertunjukan Budaya Duel Akbar 50 Rapai…
This website uses cookies.