Categories: AdvertorialFeatured

Menjaga Denyut Tradisi di Sungai Aceh Utara: Meriah Festival Lhok Buloh Jadi Ruang Bertemunya Budaya dan Wisata

Suasana berbeda terasa di kawasan sungai Lhok Buloh, Kabupaten Aceh Utara, saat masyarakat berkumpul merayakan Festival Lhok Buloh yang digelar pada pertengahan Juni lalu. Perhelatan budaya yang berlangsung pada Sabtu, 13 Juni 2026, itu tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat tradisi dan menggerakkan ekonomi masyarakat.

Sore itu, angin dari pantai bertiup pelan menyapu halaman desa. Anak-anak berlarian di sela kerumunan warga, sementara para ibu sibuk menata berbagai sajian khas Aceh di meja-meja panjang. Dari kejauhan, tabuhan rapa’i mulai terdengar, mengundang masyarakat mendekat ke pusat kegiatan festival yang dipenuhi antusiasme pengunjung.

Festival Lhok Buloh menjadi panggung bagi berbagai pertunjukan seni tradisional. Penampilan tari-tarian Aceh yang dibawakan para generasi muda berhasil menyedot perhatian penonton. Dengan balutan busana adat, mereka menampilkan gerak yang sarat makna, memperlihatkan bahwa warisan budaya masih hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tepuk tangan penonton mengiringi setiap pertunjukan. Wajah-wajah bangga tampak dari para orang tua yang menyaksikan anak-anak mereka tampil di atas panggung. Di tengah derasnya arus modernisasi, festival seperti ini menjadi pengingat bahwa identitas budaya tidak boleh tercerabut dari kehidupan masyarakat.

Tidak hanya pertunjukan seni, Festival Lhok Buloh juga menghadirkan beragam kuliner tradisional Aceh. Aroma masakan khas yang menggoda selera menguar dari deretan stan milik warga. Pengunjung dapat mencicipi berbagai hidangan sambil mendengar kisah tentang resep keluarga yang diwariskan turun-temurun dan bahan-bahan lokal yang menjadi kebanggaan masyarakat pesisir.

Bagi pelaku usaha mikro, kegiatan ini menghadirkan peluang ekonomi yang nyata. Produk kuliner rumahan, hasil kerajinan tangan, hingga aneka kreasi masyarakat memperoleh ruang promosi yang lebih luas. Kehadiran pengunjung dari berbagai daerah memberi harapan terhadap meningkatnya pendapatan masyarakat melalui sektor pariwisata berbasis budaya.

Festival ini juga menunjukkan bahwa pembangunan daerah dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Merawat tradisi, menghidupkan ruang ekspresi budaya, dan memberdayakan potensi lokal merupakan investasi sosial yang penting bagi masa depan daerah.

Aceh Utara sendiri memiliki kekayaan budaya yang besar. Ketika festival-festival seperti Lhok Buloh terus dilaksanakan secara berkelanjutan, daerah ini bukan hanya menawarkan tujuan wisata, tetapi juga menghadirkan pengalaman tentang kehidupan masyarakat yang tetap menjaga akar budayanya di tengah perubahan zaman.

Ketika malam mulai turun pada pelaksanaan festival tersebut, lampu-lampu panggung perlahan meredup. Namun semangat kebersamaan yang tercipta pada 13 Juni 2026 masih meninggalkan kesan mendalam. Dari sebuah desa di pesisir Aceh Utara, Festival Lhok Buloh menyampaikan pesan sederhana: tradisi akan tetap hidup selama masyarakat bersedia merawat dan mewariskannya kepada generasi selanjutnya.

Dukungan Dekranasda

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh Utara, Ny. Musliana Ismail, menilai Festival Lhok Buloh merupakan salah satu contoh nyata bagaimana kekuatan budaya lokal dapat menjadi penggerak pembangunan masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan dan melibatkan partisipasi seluruh elemen warga.

Hal tersebut disampaikan Ny. Musliana Ismail saat memberikan tanggapan terkait pelaksanaan Festival Lhok Buloh di Aceh Utara, Senin (6/7/2026). Menurutnya, festival yang menghadirkan pertunjukan seni, kuliner tradisional, serta berbagai kreativitas masyarakat tersebut bukan sekadar agenda hiburan tahunan, melainkan sebuah ruang bersama untuk menjaga identitas daerah sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.

“Festival seperti Lhok Buloh memiliki makna yang sangat penting. Kegiatan ini bukan hanya menjadi panggung ekspresi budaya, tetapi juga sarana untuk memperkenalkan kekayaan tradisi Aceh Utara kepada generasi muda dan masyarakat luas. Pada saat yang sama, festival membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil, perajin, dan pelaku ekonomi kreatif yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat,” ujar Ny. Musliana Ismail.

Ia mengatakan, Aceh Utara sesungguhnya memiliki kekayaan budaya yang sangat besar. Setiap wilayah menyimpan potensi yang berbeda, mulai dari tradisi, seni pertunjukan, kuliner khas, hingga kerajinan tangan yang diwariskan secara turun-temurun. Potensi tersebut harus dipandang sebagai aset daerah yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi.

“Kita sering kali mencari sesuatu yang jauh, padahal kekuatan terbesar justru ada di sekitar kita. Keterampilan masyarakat dalam menghasilkan berbagai produk kerajinan, kemampuan mengolah makanan tradisional, serta tradisi yang masih bertahan hingga hari ini merupakan modal yang sangat berharga. Tugas kita adalah merawatnya, mengembangkannya, dan mengemasnya agar semakin dikenal dan diminati,” katanya.

Menurut Ny. Musliana, penyelenggaraan festival budaya dapat menjadi sarana efektif untuk mempertemukan masyarakat dengan pasar yang lebih luas. Pengunjung yang datang tidak hanya menyaksikan pertunjukan seni, tetapi juga membeli produk lokal, mencicipi kuliner khas, dan mengenal lebih dekat identitas masyarakat Aceh Utara.

Ia menilai, sektor ekonomi kreatif berbasis budaya memiliki masa depan yang menjanjikan apabila dikelola secara serius. Apalagi, banyak usaha yang lahir dari kreativitas masyarakat terbukti mampu meningkatkan pendapatan keluarga.

“Dengan adanya festival, para pelaku usaha kecil memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan produknya secara langsung kepada masyarakat. Ini menjadi promosi yang sangat baik. Kita berharap kegiatan seperti ini dapat terus menghadirkan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Dalam konteks pemberdayaan perempuan, Ny. Musliana Ismail menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga dan mewariskan budaya. Banyak warisan kuliner Aceh yang tetap lestari karena dijaga oleh para ibu di dalam keluarga. Begitu pula berbagai keterampilan kerajinan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Perempuan bukan hanya penjaga nilai-nilai budaya, tetapi juga penggerak ekonomi keluarga. Banyak usaha rumahan yang berkembang berkat ketekunan kaum ibu. Karena itu, kegiatan budaya seperti Festival Lhok Buloh juga harus menjadi ruang pemberdayaan perempuan agar mereka semakin percaya diri, mandiri, dan produktif,” kata Ny. Musliana Ismail.

Ia berharap generasi muda Aceh Utara tidak melupakan akar budayanya sendiri di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat. Sebaliknya, kemajuan digital harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya daerah kepada dunia.

“Anak-anak muda kita sangat kreatif. Mereka dapat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan tari tradisional, kuliner khas, maupun produk kerajinan lokal. Budaya tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang kuno. Dengan sentuhan inovasi dan teknologi, budaya justru dapat tampil lebih dekat dengan generasi muda tanpa kehilangan nilai-nilai aslinya,” ujarnya.

Ny. Musliana Ismail juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung berbagai kegiatan budaya di Aceh Utara. Menurutnya, keberhasilan sebuah festival tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari tumbuhnya rasa bangga masyarakat terhadap identitas daerahnya sendiri.

“Kita ingin masyarakat memiliki rasa cinta dan bangga terhadap budaya yang dimiliki. Ketika rasa memiliki itu tumbuh, maka upaya pelestarian akan berjalan dengan sendirinya. Budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan berharga yang harus dijaga untuk masa depan,” tuturnya.

Ia berharap Festival Lhok Buloh dapat terus dilaksanakan secara konsisten dan berkembang menjadi agenda wisata budaya unggulan Aceh Utara yang mampu menarik lebih banyak wisatawan dari berbagai daerah.

“Festival Lhok Buloh mengajarkan kepada kita bahwa kebersamaan adalah kekuatan. Ketika masyarakat, pemerintah, pelaku usaha, komunitas seni, serta generasi muda bergerak bersama, budaya tidak hanya akan bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi sumber inspirasi dan kesejahteraan. Semoga semangat ini terus hidup dan menjadi energi positif bagi kemajuan Aceh Utara,” tutup Ketua Dekranasda Aceh Utara, Ny. Musliana Ismail

Ekonomi Kreatif

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Aceh Utara, Zulkifli, mengatakan Festival Lhok Buloh merupakan bagian dari upaya memperkuat posisi Aceh Utara sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya dan potensi wisata berbasis masyarakat.

Menurut Zulkifli, kegiatan budaya seperti Festival Lhok Buloh tidak hanya berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana promosi destinasi wisata daerah yang efektif. Melalui festival tersebut, wisatawan dapat mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat pesisir Aceh Utara beserta berbagai tradisi yang masih terjaga hingga saat ini.

“Festival Lhok Buloh menunjukkan bahwa Aceh Utara memiliki kekuatan budaya yang luar biasa. Potensi ini harus terus kita dorong agar menjadi daya tarik wisata yang mampu mendatangkan kunjungan wisatawan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Zulkifli, Rabu (8/7/2026).

Ia mengatakan, pengembangan sektor pariwisata saat ini tidak lagi hanya bertumpu pada keindahan alam semata, tetapi juga pada pengalaman budaya yang autentik. Wisatawan ingin merasakan langsung kehidupan masyarakat setempat, mencicipi kuliner khas, menyaksikan pertunjukan seni, hingga berinteraksi dengan para pelaku usaha lokal.

“Konsep pariwisata berbasis budaya memiliki prospek yang sangat baik. Ketika wisatawan datang ke sebuah daerah, mereka tidak hanya melihat tempat, tetapi juga ingin mendapatkan pengalaman yang berkesan. Festival seperti ini mampu menjawab kebutuhan tersebut karena menghadirkan atraksi budaya yang hidup dan dekat dengan masyarakat,” katanya.

Zulkifli menilai, keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama dalam keberhasilan sebuah festival. Partisipasi warga dalam menampilkan seni tradisional, mengelola stan kuliner, hingga menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan menjadi kekuatan yang tidak dimiliki oleh semua daerah.

“Yang paling membanggakan dari Festival Lhok Buloh adalah semangat gotong royong masyarakatnya. Kegiatan ini tumbuh dari kebersamaan warga. Inilah yang harus terus dipertahankan karena masyarakat adalah pelaku utama dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk mengambil peran lebih besar dalam mempromosikan potensi wisata Aceh Utara melalui berbagai platform digital. Menurutnya, kreativitas anak muda dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan budaya lokal kepada khalayak yang lebih luas.

“Kita ingin anak-anak muda menjadi duta wisata bagi daerahnya sendiri. Manfaatkan media sosial untuk memperkenalkan keindahan alam, kekayaan kuliner, serta berbagai tradisi yang kita miliki. Jika dipromosikan secara kreatif dan konsisten, saya yakin Aceh Utara akan semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang menarik di Aceh,” katanya.

Lebih lanjut, Zulkifli berharap Festival Lhok Buloh dapat terus dikembangkan menjadi agenda tahunan yang masuk dalam kalender event pariwisata daerah. Dengan dukungan pemerintah, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat, festival tersebut diyakini mampu menjadi magnet baru bagi pertumbuhan sektor pariwisata Aceh Utara.

“Kami berharap Festival Lhok Buloh terus berkembang dari tahun ke tahun, baik dari sisi penyelenggaraan maupun dampak yang dihasilkan bagi masyarakat. Semakin banyak orang yang datang dan mengenal Aceh Utara, semakin besar pula peluang ekonomi yang tercipta bagi warga. Karena itu, pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata harus berjalan beriringan demi kesejahteraan masyarakat,” tutup Zulkifli

|ADVERTORIAL

Bagikan Postingan
Redaksi

Dapatkan berita terbaru dari Bakata.id dengan berlangganan notifikasi portal berita ini.

Recent Posts

Bupati Al Farlaky Lantik 57 Keuchik

 Tekankan Kepemimpinan yang Responsif dan Perkuat Peradilan Adat Aceh Timur – Bupati Aceh Timur…

35 minutes ago

Jumpai Massa di Pusat Pemerintahan, Bupati Al-Farlaky Jelaskan Proses Bantuan Banjir Secara Terbuka

Aceh Timur – Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si. turun langsung menemui puluhan…

43 minutes ago

Pemkab Aceh Timur Gerak Cepat Tangani Kebakaran di Lokasi Sumur Minyak Tradisional Darul Ihsan

Aceh Timur – Pemerintah Kabupaten Aceh Timur bergerak cepat merespons terjadinya kebakaran di lokasi sumur…

1 day ago

Sumur Minyak Ilegal Meledak di Aceh Timur, Ini Sikap Polisi

IDI -Sebuah penampungan minyak hasil penambangan minyak tradisional milik ZU dan FI di Gampong Lhok…

1 day ago

Nah Lo, Listrik PDAM Lhokseumawe Diputuskan karena Tagihan Rp 375 Juta

LHOKSEUMAWE– PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) memutuskan sambungan listrik untuk seluruh jaringan di Perusahaan Daerah…

1 day ago

Menko Zulhas: Penyaluran Pupuk Bersubsidi di Palu Lancar

Palu – Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan (Menko Zulhas), memastikan penyaluran pupuk…

2 days ago

This website uses cookies.