Categories: AdvertorialNews

Bidik Bisnis EPC Berbasis Energi Bersih: Rekind Perluas Teknologi Pemanfaatan Limbah Sawit

JAKARTA | Inovasi dan teknologi merupakan harga mati yang tidak bisa dipisahkan dari peningkatan kompetensi yang dimiliki PT Rekayasa Industri (Rekind). Betapa tidak, berbekal dari pengalaman dan kemampuan yang dimilikinya, Perusahaan EPC (Engineering, Procurement & Construction) milik negara ini kembali mendorong inovasi energi berkelanjutan melalui pengembangan bisnis EPC berbasis teknologi pemanfaatan limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS).

Selama ini, TKKS yang dihasilkan dari proses produksi minyak sawit umumnya hanya dibiarkan menumpuk atau dibuang di area perkebunan. Padahal, limbah organik tersebut berpotensi menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂) akibat proses pembusukan alami yang terjadi di alam terbuka.

Menjawab tantangan tersebut, Rekind menghadirkan pendekatan inovatif melalui teknologi pirolisis, yakni proses pembakaran tanpa oksigen, untuk mengolah TKKS menjadi produk bernilai tinggi. Melalui proses ini, kandungan utama dalam biomassa berupa karbon dan hidrogen dapat dipisahkan secara efektif.

Guna mempercepat pengembangan teknologi pirolisis di Indonesia, Rekind sejak Desember 2025 membentuk kemitraan strategis bersama Advanced Energy Solutions (AES), dan RINA Tech Consulting.* *Harapannya, kolaborasi ini bisa segera mendorong produksi bernilai tinggi tersebut dalam skala komersial, sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya biomassa nasional yang saat ini masih sangat melimpah.

“Dengan teknologi pirolisis, tandan kosong tidak lagi menjadi sumber emisi, melainkan diubah menjadi dua produk strategis: karbon padat dan gas hidrogen. Ini bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi baru bagi industri sawit,” ujar Direktur Utama Rekind Triyani Utanminingsih.

Dalam prosesnya, lanjut wanita yang akrab disapa Yani ini, TKKS dimasukkan ke dalam peralatan khusus dan dipanaskan tanpa udara. Hasilnya, karbon akan terpisah dalam bentuk padatan menyerupai arang (biochar), sementara hidrogen akan berubah menjadi gas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Gas tersebut dapat digunakan untuk menggerakkan gas engine maupun gas turbine, sehingga menghasilkan listrik yang dapat dimanfaatkan di kawasan industri maupun perkebunan.

Keunggulan utama dari teknologi ini adalah kemampuannya menahan karbon agar tidak terlepas ke atmosfer. Jika dibiarkan, TKKS yang membusuk akan menghasilkan CO₂ yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Namun dengan pirolisis, karbon “dikunci” dalam bentuk padatan sehingga tidak menjadi emisi.

Lebih lanjut, karbon padat yang dihasilkan juga memiliki nilai tambah sebagai media perbaikan kualitas tanah. Ketika diaplikasikan ke lahan, material ini mampu meningkatkan kesuburan tanah dan efisiensi penggunaan pupuk. Meski bukan pengganti pupuk, penggunaannya dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia, sehingga lebih ramah lingkungan dan ekonomis.

Tidak hanya fokus pada pemisahan karbon dan hidrogen, Rekind juga telah lebih dahulu mengembangkan TKKS sebagai bahan baku bioetanol. Inisiatif ini kini telah memasuki tahap pilot plant, menandai kesiapan teknologi untuk diimplementasikan dalam skala industri. Bioetanol yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti bensin, sekaligus mendukung target bauran energi baru terbarukan nasional.

Langkah ini menunjukkan keunggulan Rekind di bidang EPC yang inovatif dan berkelanjutan. Di saat teknologi pemanfaatan limbah sawit masih belum banyak dikembangkan secara terintegrasi, Rekind terlebih dahulu melakukan riset, uji coba, hingga implementasi awal dalam skala terbatas.

“Rekind tidak hanya melihat TKKS sebagai limbah, tetapi sebagai sumber daya strategis. Kami sudah melangkah lebih jauh, mulai dari pengembangan bioetanol hingga eksplorasi teknologi pirolisis. Ini menjadi keunggulan kami dalam menangkap peluang bisnis EPC berbasis energi hijau,” tambahYani bangga.

Potensi bisnis dari pemanfaatan TKKS dinilai sangat besar, khususnya bagi para pelaku industri kelapa sawit di Indonesia. Dengan volume limbah yang melimpah, TKKS dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi, mulai dari energi hingga material pendukung pertanian. Sayangnya, peluang ini dinilai masih belum banyak diketahui dan dimanfaatkan secara optimal. “Ketika limbah bisa menjadi energi dan solusi lingkungan, di situlah masa depan industri berada. Rekind siap menjadi bagian penting dalam transformasi tersebut,” tutup Yani.[]

Bagikan Postingan
Redaksi

Dapatkan berita terbaru dari Bakata.id dengan berlangganan notifikasi portal berita ini.

Recent Posts

Mantan Direktur BUMD Aceh Timur Divonis 5,5 Tahun Penjara, Uang Pengganti Rp 1,2 Miliar Atas Kasus Korupsi

IDI Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Banda Aceh memvonis 5 tahun 6 bulan penjara terhadap…

13 hours ago

Waktunya Berburu Durian Buloh, Raja Buah Andalan Aceh Utara Diburu Wisatawan

SEJUMLAH petani berkumpul di sudut Desa Meunasah Buket, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi…

13 hours ago

KJE FC Tumbangkan POP Polres 2-0 di Liga Eksekutif JPFC

LHOKSEUMAWE– Koperasi Keuramat Jaya Energy (KJE) FC sukses mengamankan kemenangan meyakinkan 2-0 atas POP Polres…

14 hours ago

Rekind Group Perkuat Ketahanan Energi Bersih Berkelanjutan Lewat Proyek PLTP Dieng Unit 2

JAKARTA -PT Rekayasa Industri (Rekind) bersama seluruh entitas afiliasinya (Rekind Group) memegang teguh komitmennya sebagai…

1 day ago

Menanti Senja di Pantai Bangka Jaya, Permata Pesisir Dewantara

Kabupaten Aceh Utara selama ini lebih dikenal sebagai kawasan industri dan aktivitas ekonomi yang terus…

2 days ago

PS Bank Indonesia Tundukkan PS Pemko Lhokseumawe 1-0 di Liga Eksekutif JPFC

LHOKSEUMAWE– PS Bank Indonesia (BI) Lhokseumawe meraih kemenangan tipis, namun berharga setelah menaklukkan PS Pemko…

2 days ago

This website uses cookies.