Maya Lestari, M.Ed
Dosen Psikologi, Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh
Sekolah seharusnya menjadi tempat anak merasa aman dan bahagia. Di lingkungan inilah anak mulai belajar berinteraksi, bekerja sama, dan mengenal dirinya. Sayangnya, praktik perundungan masih kerap terjadi dan sering dianggap sebagai hal biasa. Padahal, bagi anak, bullying dapat menimbulkan tekanan emosional yang berdampak pada kesehatan mental dan kesejahteraan mereka di sekolah.
Bullying pada anak usia sekolah dasar sering kali muncul dalam bentuk ejekan, pengucilan, ancaman, atau kekerasan verbal yang dianggap “bercanda”. Karena terlihat sepele, perilaku ini kerap dinormalisasi oleh lingkungan sekitar. Sebenarnya, efek bullying jauh dari sepele. Anak yang menjadi sasaran ejekan atau pengucilan bisa merasa takut, cemas, dan kehilangan percaya diri. Gangguan emosi seperti ini berdampak langsung pada student well-being, karena siswa sulit merasa aman dan nyaman di sekolah.
Di SDN 9 Dewantara, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini difokuskan pada upaya pencegahan bullying sebagai bagian dari membangun sekolah yang ramah anak. Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang untuk menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan siswa. Anak-anak yang merasa aman secara emosional lebih mudah berkonsentrasi, berani bertanya, dan terlibat aktif dalam pembelajaran.
Dalam kegiatan ini, pencegahan bullying tidak dilakukan sekadar melalui aturan atau ancaman sanksi. Siswa diajak melalui pendekatan edukatif dan dialogis untuk memahami makna perilaku mereka. Mereka diajak mengenali apa itu bullying, merasakan bagaimana dampaknya bagi korban, dan memikirkan langkah yang bisa diambil jika melihat teman diperlakukan tidak adil. Proses diskusi dan simulasi sederhana ini membantu anak mengembangkan empati dan kesadaran sosial sejak dini.
Pendekatan pencegahan yang berfokus pada student well-being juga memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaan mereka. Ketika anak merasa didengar dan dipercaya, mereka akan lebih berani bercerita tentang pengalaman tidak menyenangkan yang dialami. Hal ini penting karena banyak kasus bullying tidak terungkap akibat anak takut disalahkan atau dianggap lemah.
Lingkungan sekolah yang suportif dapat menjadi faktor pelindung bagi kesehatan mental anak.
Peran guru sangat krusial dalam mencegah bullying. Guru yang adil, empatik, dan responsif menciptakan rasa aman bagi anak. Dengan menegur tanpa menghakimi dan membimbing tanpa merendahkan, guru membantu siswa belajar menyelesaikan konflik secara sehat. Selain sekolah, keluarga memegang peran yang tidak kalah penting.
Orang tua perlu aktif mendengarkan dan memahami anak sehari-hari. Perubahan perilaku, seperti enggan pergi ke sekolah atau sering merasa kesal, bisa menjadi tanda anak menghadapi tekanan sosial. Dengan dukungan dari rumah dan sekolah yang berjalan bersamaan, anak akan merasa lebih aman, dihargai, dan kesejahteraan mentalnya tetap terjaga.
Mencegah bullying berarti menciptakan lingkungan di mana anak saling menghormati dan merasa aman. Anak yang merasa diterima dan dihargai akan lebih tenang, percaya diri, dan siap belajar dengan baik. Sekolah yang aman dan menyenangkan bukan sekadar tujuan, tetapi merupakan janji bersama untuk mendukung setiap anak tumbuh bahagia, sehat secara mental, dan siap menghadapi masa depan. []
Jakarta – Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga menegaskan komitmennya dalam menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat…
Aceh Timur — Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I, M.Si menginstruksikan seluruh camat di…
LHOKSUKON- Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, menyatakan segera menyita kembali aset terpidana kasus…
Jakarta - Pemerintah menyampaikan bahwa tidak ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), baik subsidi…
Medan– Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) terus memperkuat keandalan distribusi energi guna…
KUALA SIMPANG- Sebanyak 100 kepala keluarga (KK) di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh…
This website uses cookies.