Banda Aceh – Pemerintah Aceh mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dan Iskandar Usman Alfarlaki, anggota DPR Aceh asal daerah tersebut, atas upaya lobi pembebasan nelayan yang ditangkap di Thailand.
“Tentu kita apresiasi langkah cepat itu. Tidak mungkin kita melangkahi upaya-upaya yang telah dilakukan Pemkab Aceh Timur, dan Pak Iskandar Alfarlaki,” kata Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Muhammad Iswanto SSTP. MM., Selasa 4/02.
Namun demikian, wanto menyayangkan komentar Alfarlaki yang mengatakan pemerintah pilih kasih, dalam hal ini Alfarlaki menyebutkan Plt Gubernur memberikan perhatian berbeda bagi 32 nelayan itu, sementara perlakuan istimewa diberikan bagi mahasiswa di Wuhan China. Dua kasus ini, kata wanto harus dilihat dari sisi yang berbeda.
“Para mahasiswa itu ‘terjebak’ di Wuhan, di tengah-tengah virus yang sangat berbahaya. Sementara untuk para nelayan, kita belum mendapatkan kepastian, kenapa nelayan kita bisa ditangkap di Thailand,” kata wanto.
wanto mengatakan pemerintah Aceh tentu tidak tinggal diam. Namun pihaknya masih menunggu dan terus menjajaki jawaban Kemenlu atas surat dari Pemerintah Kabupaten Aceh Timur dan Alfarlaki. Tentu dalam surat balasan itu ada alasan kenapa 32 nelayan itu bisa ditahan.
Dinas Sosial dan Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, kata juga terus menjajaki hubungan dengan Kemenlu di Jakarta dan Konsulat RI di Songkla Thailand, sehingga dengan langkah bersama upaya tersebut cepat mendapatkan hasil.
“Tapi yang pasti kita juga harus lihat alasan mereka bisa ditahan di Thailand. Harapan kita mereka bisa secepatnya dibawa pulang ke Aceh, tentu dengan prosedur yang berlaku di sana,” kata wanto.
Sebelumnya dilaporkan Kapal Motor Perkasa Mahera dan KM Voltus asal Aceh Timur diduga ditahan oleh Otoritas Laut Thailand pada 21 Januari lalu. Dua kapal ini diduga terseret arus hingga hanyut ke perairan di wilayah laut Thailand.
Mereka yang berada di dua kapal itu antara lain, Munir (narkoda), Ibrahim (KKM), Saiful, Khairul, Nanda, Ikbal, M. Yunus, Nurdin, Dona, Iskandar, Rijal, Adi, Ishak, Munzir, Nurdin, Midi, Edi, Munir, Firman, Pendi, Adi, Aris, Abdul Hadi, Andi, Saleh, M Jamil, Adi dan Mawardi. Seluruh awak kapal itu berasal dari Aceh Timur.
|KC
ACEH TIMUR - Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Aceh Timur, Rizalihadi mengatakan dalam…
LHOKSUKON- Ratusan warga Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, merubah status pekerjaan untuk merubah data dsil…
Lhokseumawe — Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) melalui Integrated Terminal (IT) Lhokseumawe…
ACEH TIMUR | Pemulihan bencana di Aceh dibayangi manuver politik. Di tengah logistik pengungsi yang…
LHOKSUKON- Sekitar 90 hektare area sawah di Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh…
LHOKSEUMAWE - Puluhan calon jemaah haji (CJH) di Lhokseumawe, Provinsi Aceh, mendatangi Kantor Kementerian Haji…
This website uses cookies.