Tentu ada muatan filosofis di balik ‘wajah baru’ tugu yang tampak dinamis ini. Salah seorang konseptor desain Tugu Simpang Lima Banda Aceh, Zulhadi Sahputra, ST, MT, menjelaskan, ada empat konsep dasar yang dielaborasi dalam pengembangan desain tugu, yaitu konteks lokasi, isu desain, karakter desain dan budaya perusahaan Bank Bukopin. Kok, Bank Bukopin? Ya, tugu yang terletak di pusat kota Banda Aceh ini memang direvitalisasi oleh Bank Bukopin bekerja sama dengan Pemerintah Kota Banda Aceh.
Lima Filosofi, Lima Rukun Islam
Nah yuk, kita telusuri lebih jauh makna konsepnya. Pertama, konteks lokasi. Perlu kita tahu, tugu ini memiliki sejarah dan memori sebagai tempat yang sering dijadikan lokasi penyampaian aspirasi dan demonstrasi. Ada 4 eksplorasi konsep yaitu axis-oriented (sumbu), urban oase, multi-purposes building dan landmark kota Banda Aceh.
Sesuai namanya, tugu ini berada di lima persimpangan jalan protokol yang selalu padat, yaitu jalan Tgk. H. M. Daud Beureuh, T. Panglima Polem, Sri Ratu Safiatuddin, Pangeran Diponegoro, dan jalan Teungku Angkasa Bendahara. Konsep axis-oriented diwujudkan dalam bentuk tugu yang menghadap kelima aksis (sumbu) jalan di sekitar tugu.
Lalu, konsep urban oase diterjemahkan dengan menghadirkan lanskap taman kecil dan kolam air mancur. Inilah elemen pendukung yang memberi nilai lebih. Adanya taman dan kolam air mancur diharapkan berkontribusi mengendalikan iklim mikro yaitu menurunkan suhu di sekitar tugu.
Kemudian, konsep multi-purposes sculpture diterjemahkan melalui bentuk tugu yang tak hanya mengedepankan estetika, tapi juga aspek fungsional. Desain tugu ini memberi “ruang” yang lebih nyaman untuk lokasi penyampaian aspirasi dan demonstrasi.
Konsep dasar kedua adalah isu desain. Desain yang diangkat adalah isu-isu kekinian yang berhubungan dengan lokalitas, identitas, dan karakter Kota Banda Aceh saat ini. Ide awal perencanaan tugu diambil dari bentuk Pintoe Aceh. Nah, bentuk yang ditransformasikan adalah setengah Pintoe Aceh dengan memasukkan nilai-nilai konsep kota Madani.
Tugu yang berjumlah lima pilar utama ini merujuk pada lima Rukun Islam. Pilar tersebut berbentuk setengah “Pintoe Aceh” yang menjulang ke atas. Jika dilihat dari berbagai sudut di Simpang Lima, desain tugu tampak dinamis dan kaya visualisasi.
Nah, prinsip Kota Madani yang diterjemahkan dalam desain tugu Simpang Lima ini adalah hablumminallah dan hablumminannas. Tranformasi bentuk tugu yang mengerucut ke atas sebagai simbol hablumminallah. Sedangkan, konsep hablumminannas diterjemahkan melalui bentuk kaki tugu yang jika terlihat dari atas terbentuk sebuah transformasi rangkulan yang berkesinambungan dan tak berujung.
Asmaul husna yang diterapkan pada konsep awal mengandung filosofi sebagai jembatan atau media yang menyatukan konsep hablumminannas menuju hablumminallah. Filosofinya, jika masyarakat Kota Banda Aceh bahu-membahu dan saling bekerja sama membangun kota dengan mengikatkan diri pada konsep hablumminallah, maka visi misi Kota Madani akan tercapai.
Kemudian, konsep desain tuga juga memasukkan unsur identitas kota Banda Aceh. Hal ini dinisbatkan pada hari jadi Kota Banda Aceh yang notabene adalah sesuatu yang memorable bagi masyarakat. Adanya 22 buah jumlah lampu taman bermakna tanggal jadi Kota Banda Aceh, sedangkan 4 tingkatan tugu bermakna bulan jadinya Kota Banda Aceh yaitu April.
Kalau kita perhatikan, bentuk tugu didesain ikonik dan estetis dengan konsep bentuk modern serta dinamis. Tugu ini tidak didesain untuk sekadar menjadi sculpture atau landmark kota, namun juga fungsional sebagai ruang publik kota.
Konsep desain tugu ini juga diharapkan mampu menggambarkan nilai seni, filosofi, karakter, dan cita-cita yang mencerminkan keberadaan, dinamika, dan orientasi futuristik, baik bagi wilayah maupun warga kotanya, dengan mempertimbangkan keharmonisan dan konteks lokasi kawasan.
“Keberadaan Tugu Simpang Lima bagi warga Kota Banda Aceh diharapkan dapat menimbulkan rasa bangga dan cinta serta meningkatkan apresiasi, inspirasi, dan daya tarik bagi para pemangku kepentingan dalam beraktivitas membangun Kota Banda Aceh,” harap dosen Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh ini. |PI
Keuchik (Kepala Desa) Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Mansur, mendesak pemerintah…
MALAYSIA - Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) terus memperkuat peran strategisnya dalam pengembangan pendidikan tinggi vokasi…
Padang– Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) melalui Integrated Terminal (IT) Teluk Kabung…
ACEH UTARA — Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, SE., MM., menyampaikan pernyataan tegas dalam…
Pekanbaru – Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) yang dipimpin oleh Executive General…
IDI RAYEUK- Sebanyak 24.500 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh…
This website uses cookies.