Munawir Ilyas, pemilik Bu Grieng, di Desa Paya Tengoeh, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (5/1/2019). KOMPAS.com/MASRIADI
TIGA wanita paruh baya cekatan mengaduk bu grieng di atas kompor gas. Dapur nan bersih itu menjadi tempat pengolahan penganan kahas Aceh tersebut puluhan tahun lalu di Desa Paya Tengoeh, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara.
Suara hentakan sendok beradu dengan kuali menggema. Mereka terlihat santai. Sesekali bahkan tertawa. Penganan tradisional itu sungguh melegenda. Kini usaha itu diteruskan Munawir Ilyas, seorang guru dan wirausaha.
BACA JUGA : Gajah Masuk ke Pemukiman, Ini Respon BKSDA Aceh
“Ini awalnya usaha turun temurun, sekarang saya yang kelola,” sebutnya Munawir, Jumat (11/1/2018).
Bahan baku bu grieng yaitu nasi ketan yang ditanah. Setelah matang, nasi itu lalu dijemur. Setelah kering, barulah digoreng. Lalu, hasil gorengan itu dicetak sesuai ukuran yang diperlukan. Bentuknya beragam, mulai bentuk bulat seperti bola, ada pula berbentuk bulat seperti piring.
“Bahkan ini masih dijadikan kue hantaran buat orang menikah. Kalau buat orang menikah itu ukurannya besar, harga satuannya tiga ratus ribu rupiah,” sebut Munawir.
Sedangkan untuk dijual ke pasar berkisar Rp 5.000 – Rp 20.000 per bungkus. Tergantung ukurannya. Dia menyebutkan, bisnis kue nan manis itu bukan semata-mata urusan untung dan rugi. Namun juga mempertahankan tradisi.
Penganan itu disebar ke seluruh kabupaten/kota di Aceh. Mudah ditemui di sejumlah minimarket dan toko souvenir. Sehingga, wisatawan kerap menjadikan penganan ini sebagai oleh-oleh.
Dalam sehari, Munawir bisa memproduksi 100 bungkus. Omsetnya per bulan tembus Rp 10 juta. “Saya bersyukur dengan capaian ini. Tentu kami terus berusaha penganan ini tetap gurih dan manis, agar enak dikunyah. Tidak keras,” sebutnya.
Usaha terus terus bertahan. Rasanya nikmat. Bisa disimpan sekitar sebulan. Dan, Munawir terus bertahan ditengah gempuran penganan modern yang siap saji di Lhokseumawe. “Ini masih menjadi penganan yang disukai oleh masyarakat Aceh dan luar Aceh,” pungkasnya. |KCM
Padang– Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) melalui Integrated Terminal (IT) Teluk Kabung…
ACEH UTARA — Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, SE., MM., menyampaikan pernyataan tegas dalam…
Pekanbaru – Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) yang dipimpin oleh Executive General…
IDI RAYEUK- Sebanyak 24.500 Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh…
KUALA SIMPANG - Ribuan pelajar Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, belum memiliki seragam sekolah dan…
Aceh Timur — Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, meminta seluruh camat agar memerintahkan para…
This website uses cookies.