Menjadi seorang engineer tidak cukup hanya memahami teori dan hitungan, seperti halnya di bangku kuliah. Dibutuhkan kemampuan teknis, kolaborasi, komunikasi hingga keberanian dalam mengambil keputusan. Langkah ini sangat penting untuk dilakukan, terutama dalam menyikapi perkembangan jaman yang bergerak dengan tantangan dinamis, termasuk kompleksitas di dunia EPC (engineering, Procurement and Construction).
Kesadaran inilah yang mendorong PT Rekayasa Industri (Rekind) untuk ikut berperan dalam menyiapkan generasi engineer masa depan yang gemilang. Satu di antaranya melalui Future Engineer Class, yang digelar oleh RECARE, indirect subsidiary (cucu perusahaan) Rekind, yang bergerak dalam bidang Man Power Supply, Training dan Event Management berkualitas.
RECARE Future Engineer Class berlangsung di Gedung ROB 2, Lantai 1, Kompleks Kantor Pusat Rekind. Kegiatan ini mempertemukan para engineer ahli di bidang EPC dengan lebih dari 50 peserta yang rata-rata mahasiswa aktif D3/S1 bidang teknik, junior engineer, dan fresh engineer dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.
Forum ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan akademis dengan gambaran nyata dunia industri, khususnya proyek EPC, sekaligus membuka wawasan peserta mengenai kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi kompleksitas proyek di lapangan.
“Rekind, sebagai salah satu perusahaan EPC nasional, punya pengalaman panjang dalam mengerjakan berbagai proyek strategis di Indonesia. Karena itu, kami memiliki tanggung jawab untuk ikut menyiapkan generasi engineer Indonesia yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga siap menghadapi kompleksitas dunia industri,” terang Direktur Utama Rekind Triyani Utaminingsih.
Menurutnya, apa yang dipelajari di kampus terkadang punya pandangan berbeda, terutama saat dihadapkan pada persoalan nyata. Misalnya, dalam kegiatan proyek EPC, pekerjaan tidak berhenti pada engineering, tetapi berlanjut ke procurement, construction, commissioning hingga sebuah fasilitas dapat beroperasi dan memberikan manfaat. “Di setiap tahapan tersebut, engineer dituntut memiliki kompetensi teknis sekaligus mampu bekerja bersama banyak pihak, berkomunikasi, beradaptasi, mengambil keputusan, dan menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di lapangan,” tambahnya.
Perspektif mengenai luasnya peran engineer turut disampaikan Direktur Operasi dan Teknologi/Pengembangan Rekind Yusairi, melalui materi “The Blueprint to Reality – Engineering Sovereignty and the Engine of Mega-Projects.” Berbekal pengalamannya, termasuk pernah menjadi Project Manager RDMP Balikpapan, Yusairi menegaskan, engineering bukan sekadar proses teknis, melainkan salah satu fondasi dalam membangun kapabilitas industri nasional. “Di balik besarnya investasi, luasnya fasilitas, dan tingginya kapasitas sebuah project besar, selalu ada gagasan yang lebih dahulu dituangkan dalam blueprint. Dari sanalah peran engineer dimulai, mengubah rancangan menjadi kenyataan,” ujarnya.
Dalam ekosistem EPC, lanjutnya, engineering juga menjadi titik temu berbagai kepentingan. Perhitungan teknis harus bertemu dengan kebutuhan procurement. Desain harus dapat diterjemahkan oleh tim construction. Setiap sistem harus dapat diuji dan dikomisioning. Sementara aspek biaya, jadwal, mutu, keselamatan dan risiko harus tetap berada dalam satu kendali. “Karena itu, keberhasilan sebuah proyek besar tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat konstruksi dilakukan. Dia juga ditentukan oleh seberapa matang rekayasa yang berada di belakangnya,” terang Yusairi meyakinkan.
Apalagi, tambahnya, tantangan proyek EPC juga terus berubah. Cara kerja yang sebelumnya melihat pekerjaan berdasarkan area atau disiplin semakin berkembang menuju pendekatan yang melihat proyek sebagai sebuah sistem yang terintegrasi. “Perubahan dari area-wise execution menuju system-wise execution menuntut engineer untuk memiliki perspektif yang lebih luas,” sergahnya.
Selain Yusairi, kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah pembicara berpengalaman, yakni mantan EVP Project Management Rekind Radian Z. Hosen, Project Manager TYMS sekaligus mantan SVP Procurement Rekind Sudayat, serta Ketua Program Studi Sarjana Teknik Kimia Fakultas Teknik Kimia Universitas Sebelas Maret Surakarta Dr. Sunu Herwi Pranoto. Mereka didampingi Direktur RECARE M. Teddy Widjanarko, Direktur Utama Rekind E&C M. Darma Setiawan, dan SVP Transformasi Bisnis Rekind M. Islahudin.
Beragam perspektif tersebut menghasilkan diskusi yang memperkaya pemahaman peserta mengenai tantangan, kompetensi, dan karakter yang dibutuhkan seorang engineer. Sebuah langkah kecil untuk menyiapkan generasi muda yang kelak tidak hanya mampu membaca blueprint, tetapi juga memiliki keberanian dan kemampuan untuk mengubahnya menjadi karya nyata bagi industri Indonesia.[]
Medan – Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melakukan audiensi dan silaturahmi dengan Panglima Komando Daerah…
Jakarta– PT Pupuk Indonesia (Persero) berkolaborasi dengan Perkumpulan Istri Karyawan Pupuk Indonesia (PIKA PI) Group…
Nurlaila ibu dari Muhammad Rasya Fadhilla (19) tarunaPoliteknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh tak bisa menyembunyikan…
Mojokerto – PT Pupuk Indonesia (Persero) melaksanakan panen jagung manis di lahan Pondok Pesantren (Ponpes)…
KOTA LHOKSEUMAWE – Kota Lhokseumawe mencatat total tambahan alokasi Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp124,97 miliar berdasarkan realisasi per 24 September…
Aceh Timur,IDI –Kabar baik bagi masyarakat Kota Idi. Setelah tahap pertama pengaspalan Jalan Kota Idi…
This website uses cookies.