Nurlaila ibu dari Muhammad Rasya Fadhilla (19) tarunaPoliteknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh tak bisa menyembunyikan rasa duka mendalam di rumahnya Desa Mee Kandang, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Selasa (29/9/2026).
Pasalnya putra sulungnya diduga tewas karena kekerasan saat mengawali masa perkuliahan di kampus Poltekpel Malahayati Banda Aceh. “Tubuh dan lehernya lebam,” kata Nurlaila menahan tangis.
Setelah 24 hari masuk ke kampus itu, Rasya menghembuskan nafas terakhirnya. Dokter menyatakan ke keluarga Rasya alergi obat. Sedangkan sang ibu, mengetahui persis, putranya tak punya riwayat alergi.
“Hapus sudah semua mimpi Rasya. Dia ingin menikah dengan iringan pedang pora. Yang terjadi, dia diantar meninggal dunia degan pedang pora,” katanya.
Suaranya terbata-bata dan relatif kecil. Masih sangat mendalam duka yang ditinggalkan sang buah hati.
Pada 26 September 2026, sang buah hati dinyatakan meninggal dunia setelah sebelumnya dibawa ke Rumah Sakit Zainal Abidin Banda Aceh oleh pihak kampus.
Kampus juga telah mengembalikan barang milik taruna itu ke keluarga. Mulai dokumen administrasi yang digunakan Rasya saat memasuki pendidikan, tumbler yang biasa digunakannya, koper, serta sebuah foto Rasya yang telah dibingkai dengan latar berwarna kuning.
Sejurus kemudian, tangis Nurlaila pecah. Dia mencium foto sang putra. Rasya sempat dirawat di rumah sakit. Nurlaila sempat melakukan panggilan video. “Saat video call dia menanyakan saya apakah tidak menjenguknya karena dia sedang sesak,” ujar Nurlaila.
Percakapan tersebut menjadi komunikasi terakhir antara ibu dan anak itu.
Rasya berangkat mengikuti pendidikan pada 4 September 2026. Keputusan itu merupakan bagian dari upayanya mengejar cita-cita menjadi perwira. Awalnya, Nurlaila kurang seuju dengan pendidikan ala militer. Namun Rasya menyakinkan ibunya, bahwa dia ingin mencapai cita-cita.
Sebagai orang tua, Nurlaila berkewajiban mendukung cita-cita sang putra. Namun, takdir berkata lain. Sang putra pulang dengan kain kafan, setelah 24 hari menempuh pendidikan.
“Keluarga saya tiba lebih dulu di rumah sakit. Saat itu, wajahnya lebam. Kakinya dingin,” katanya.
Dia pun menuntut polisi mengusut kasus itu. Sehingga diketahui persis penyebab kematiannya.
Hingga saat ini, pihak kampus belum mengeluarkan pernyataan pers pada media terkait kematian salah satu taruna. Dugaan yang beredar terjadi kekerasan saat proses orientasi mahasiswa baru.
“Dia anak yang baik. Semoga kasus ini bisa terang,” pungkas Nurlaila.|KOMPAS
Medan – Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melakukan audiensi dan silaturahmi dengan Panglima Komando Daerah…
Jakarta– PT Pupuk Indonesia (Persero) berkolaborasi dengan Perkumpulan Istri Karyawan Pupuk Indonesia (PIKA PI) Group…
Menjadi seorang engineer tidak cukup hanya memahami teori dan hitungan, seperti halnya di bangku kuliah.…
Mojokerto – PT Pupuk Indonesia (Persero) melaksanakan panen jagung manis di lahan Pondok Pesantren (Ponpes)…
KOTA LHOKSEUMAWE – Kota Lhokseumawe mencatat total tambahan alokasi Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp124,97 miliar berdasarkan realisasi per 24 September…
Aceh Timur,IDI –Kabar baik bagi masyarakat Kota Idi. Setelah tahap pertama pengaspalan Jalan Kota Idi…
This website uses cookies.