ACEH UTARA — Banjir yang melanda Desa Blang Peuria, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, pada 26 November 2025 telah lama berlalu. Namun, bagi enam kepala keluarga (KK), bencana tersebut belum benar-benar berakhir.
Hingga kini, mereka masih belum memiliki tempat tinggal yang layak dan terpaksa bertahan di tenda yang dibangun secara mandiri. Terpal menjadi pelindung utama, sementara perlengkapan seadanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut terlihat dalam monitoring di Desa Blang Peuria. Enam KK korban banjir masih menempati tenda yang mereka bangun sendiri sebagai tempat berlindung setelah kehilangan atau tidak lagi dapat menempati hunian yang layak akibat bencana.
Di tengah keterbatasan itu, warga menjalani hari-hari dengan harapan adanya kepastian mengenai tempat tinggal permanen. Tenda yang semula menjadi tempat perlindungan sementara kini telah menjadi hunian dalam waktu yang tidak singkat.
Bagi warga, persoalan utama bukan sekadar bertahan dari panas dan hujan, tetapi juga ketidakpastian mengenai kapan mereka dapat kembali tinggal di rumah yang aman dan layak.
Tokoh masyarakat Desa Blang Peuria, Ramadhan, mengatakan masih terdapat enam KK korban banjir yang hingga kini bertahan di tenda yang dibuat secara mandiri menggunakan terpal.
Menurutnya, warga berharap pemerintah segera memberikan kepastian mengenai pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi korban banjir yang sampai sekarang belum memiliki tempat tinggal yang layak.
“Warga berharap pemerintah dapat segera memberikan kepastian terkait pembangunan Huntap yang sebelumnya telah diusulkan oleh perangkat desa,” ujar Ramadhan.
Sebelumnya, perangkat desa telah mengusulkan pembangunan 13 unit Huntap untuk warga terdampak. Usulan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai rencana, tetapi dapat segera direalisasikan sehingga warga yang masih tinggal di tenda memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan layak.
Ramadhan menyebutkan, sebanyak 13 unit Huntap yang telah diusulkan diharapkan dapat segera dibangun. Kepastian pembangunan dinilai penting untuk memberikan kejelasan bagi para korban yang hingga kini masih menghadapi persoalan tempat tinggal.
Kondisi enam KK yang masih bertahan di tenda menjadi gambaran bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika air banjir surut. Bagi sebagian warga, proses pemulihan justru masih berlangsung hingga mereka mendapatkan kembali tempat tinggal yang layak.
Di Desa Blang Peuria, tenda-tenda berbahan terpal itu menjadi pengingat bahwa dampak banjir 26 November 2025 masih dirasakan. Enam keluarga masih menunggu satu hal yang paling mendasar: sebuah rumah yang aman untuk kembali disebut sebagai tempat tinggal. |MULYADI
LHOKSUKON- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI berjanji menyelesaikan pembangunan 14 rumah atau hunian tetap…
Banda Aceh – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Aceh Timur, Ny. Dr. Lismawani Iskandar Al-Farlaky,…
LHOKSEUMAWE — Bursa pemilihan Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal) periode 2027–2030 mulai mengerucut. Hingga penutupan pendaftaran, enam…
Padang – Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) gerak cepat menyalurkan bantuan kemanusiaan…
ACEH UTARA – Ribuan masyarakat dari berbagai kecamatan di Kabupaten Aceh Utara memadati kawasan Kantor Bupati…
LHOKSUKON - Sebanyak 14 unit rumah untuk penyintas banjir di Desa Abeuk Reuling, Kecamatan Sawang,…
This website uses cookies.