Kabut pagi masih menggantung di antara perbukitan Kuta Makmur ketika gemuruh Air Terjun Blang Kolam memecah kesunyian hutan. Selasa (14/7/2026). Dari sela pepohonan tropis yang tumbuh rapat, dua aliran air jatuh berdampingan dari tebing tinggi, menghadirkan panorama yang menenangkan sekaligus memukau siapa saja yang datang.
Di kejauhan, beberapa pengunjung tampak menuruni ratusan anak tangga menuju dasar air terjun. Anak-anak berlarian sambil tertawa, sementara para orang tua mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka. Tidak jauh dari lokasi wisata, warung-warung sederhana mulai membuka dagangan. Aroma kopi Aceh berpadu dengan harum pisang goreng dan mi khas daerah menjadi penanda kehidupan ekonomi yang bergerak di sekitar destinasi wisata tersebut.
Pemandangan itu perlahan menggambarkan wajah lain Kabupaten Aceh Utara. Selama ini, daerah yang dikenal sebagai pusat sejarah Kesultanan Samudera Pasai dan wilayah penghasil sumber daya alam itu ternyata menyimpan kekayaan wisata yang belum sepenuhnya tergarap. Dari pegunungan hingga pesisir pantai, dari situs sejarah hingga wisata religi, Aceh Utara memiliki modal besar untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak ekonomi masa depan.
Kabupaten Aceh Utara merupakan salah satu daerah terluas di Provinsi Aceh dengan bentang alam yang sangat beragam. Wilayah ini membentang dari kawasan pegunungan di bagian selatan hingga garis pantai yang menghadap langsung ke Selat Malaka di bagian utara. Kondisi geografis tersebut melahirkan kekayaan destinasi yang tidak dimiliki banyak daerah lain.
Di kawasan pedalaman terdapat wisata alam berupa air terjun, sungai, perbukitan, dan hutan tropis. Sementara di wilayah pesisir tersimpan pantai-pantai dengan panorama matahari terbit yang memesona. Di sisi lain, Aceh Utara juga merupakan tanah bersejarah tempat berdirinya Kerajaan Samudera Pasai, kerajaan Islam pertama di Nusantara yang menjadi tonggak penting perkembangan peradaban Melayu-Islam.
Salah satu ikon wisata alam yang paling dikenal adalah Air Terjun Blang Kolam di Kecamatan Kuta Makmur. Air terjun kembar dengan ketinggian sekitar 75 meter itu berada di tengah kawasan hutan yang masih asri. Suara deras air yang jatuh berpadu dengan udara pegunungan yang sejuk menciptakan pengalaman wisata yang sulit dilupakan. Destinasi ini bahkan menjadi tujuan favorit masyarakat Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe untuk menghabiskan akhir pekan.
Namun sesungguhnya, Blang Kolam hanyalah satu bagian kecil dari mozaik keindahan Aceh Utara. Di sepanjang pesisir timur, terdapat Pantai Bantayan yang menawarkan hamparan pasir luas dengan suasana tenang khas Selat Malaka. Sementara di kawasan bersejarah Kecamatan Samudera, wisatawan dapat menelusuri jejak kejayaan Samudera Pasai melalui kompleks makam para sultan yang menjadi saksi awal masuknya Islam ke Nusantara.
Potensi tersebut menunjukkan bahwa Aceh Utara bukan sekadar daerah transit yang dilalui kendaraan antarkabupaten. Daerah ini memiliki identitas pariwisata yang kuat. Alamnya menawarkan petualangan, sejarahnya menghadirkan pembelajaran, budayanya memperkaya pengalaman, sementara kuliner lokal memberi kenangan yang sulit dilupakan.
Jika seluruh potensi itu dapat dipadukan melalui perencanaan yang matang, pembangunan infrastruktur, promosi digital, dan keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama, maka sektor pariwisata dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi baru bagi Negeri Pase.
Aceh Utara hari ini sesungguhnya sedang berdiri di persimpangan penting. Di satu sisi, daerah ini memiliki kekayaan wisata yang luar biasa. Di sisi lain, tantangan berupa akses, fasilitas, dan promosi masih perlu dibenahi. Pertanyaannya bukan lagi apakah Aceh Utara memiliki potensi wisata, melainkan seberapa serius seluruh pemangku kepentingan mampu mengelola anugerah tersebut menjadi kesejahteraan bagi masyarakat.
Dari gemuruh Air Terjun Blang Kolam hingga jejak peradaban Samudera Pasai, harapan tentang masa depan itu sesungguhnya telah tersedia. Tinggal bagaimana Negeri Pase merajutnya menjadi cerita besar tentang kebangkitan pariwisata Aceh Utara.
Jejak Samudera Pasai dan Pesona Pesisir Negeri Pase
Jika wisata alam menjadi wajah pertama Aceh Utara, maka sejarah adalah jiwa yang membentuk identitas daerah ini. Tidak banyak wilayah di Indonesia yang dapat mengklaim diri sebagai tempat lahirnya salah satu peradaban Islam tertua di Nusantara. Aceh Utara memiliki warisan itu melalui Kesultanan Samudera Pasai.
Di Kecamatan Samudera, berbagai situs sejarah masih berdiri sebagai penanda kejayaan masa lalu. Kompleks makam para Sultan Samudera Pasai menjadi salah satu destinasi yang kerap dikunjungi peziarah, peneliti, hingga wisatawan yang ingin memahami perjalanan panjang masuknya Islam ke Nusantara.
Nisan-nisan batu dengan ukiran khas Timur Tengah dan Aceh menjadi bukti hubungan perdagangan internasional yang telah terjalin sejak berabad-abad lalu. Dari wilayah inilah, para pedagang Arab, Persia, India, dan Tiongkok pernah berinteraksi, menjadikan Samudera Pasai sebagai pusat perdagangan sekaligus penyebaran agama Islam di Asia Tenggara.
Potensi wisata sejarah ini sesungguhnya dapat dikembangkan lebih jauh melalui penyediaan pusat informasi, museum interaktif, pertunjukan budaya, hingga paket wisata edukasi bagi pelajar dan mahasiswa. Dengan demikian, sejarah tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga sumber pembelajaran dan penggerak ekonomi masyarakat.
Selain wisata sejarah, kawasan pesisir Aceh Utara juga menyimpan daya tarik yang tidak kalah memikat. Garis pantai yang membentang di sepanjang Selat Malaka menghadirkan sejumlah destinasi dengan karakter yang berbeda-beda.
Salah satu yang mulai dikenal masyarakat adalah Pantai Bantayan di Kecamatan Seunudon. Pantai ini menawarkan hamparan pasir yang luas dengan suasana yang relatif tenang. Deretan pohon cemara di sepanjang bibir pantai menghadirkan keteduhan bagi pengunjung yang ingin menikmati angin laut bersama keluarga.
Saat sore menjelang, warna langit yang berubah keemasan menciptakan pemandangan matahari terbenam yang memanjakan mata. Banyak pengunjung datang untuk bersantai, memancing, menikmati kuliner laut, atau sekadar mengabadikan momen melalui kamera telepon genggam mereka.
Di sejumlah kawasan pesisir lainnya, kehidupan masyarakat nelayan juga dapat menjadi daya tarik wisata tersendiri. Aktivitas perahu yang berangkat melaut pada dini hari, proses pelelangan ikan, hingga tradisi gotong royong masyarakat pesisir merupakan pengalaman autentik yang sulit ditemukan di destinasi wisata modern.
Konsep wisata berbasis masyarakat atau community based tourism dapat menjadi pilihan dalam pengembangan kawasan ini. Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan pantai, tetapi juga berinteraksi langsung dengan kehidupan masyarakat lokal, belajar tentang budaya maritim, hingga mencicipi hasil tangkapan laut yang diolah menjadi kuliner khas Aceh Utara.
Keberadaan wisata sejarah dan pesisir tersebut menunjukkan bahwa Aceh Utara memiliki variasi destinasi yang sangat lengkap. Dalam satu perjalanan, wisatawan dapat menelusuri jejak kejayaan Samudera Pasai pada pagi hari, menikmati kuliner khas masyarakat pada siang hari, lalu menyaksikan senja di pesisir Selat Malaka pada sore harinya.
Keunggulan seperti inilah yang menjadi modal penting dalam membangun identitas pariwisata Aceh Utara. Bukan hanya menjual keindahan alam, tetapi juga menghadirkan pengalaman utuh tentang sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Negeri Pase.
Apabila dikelola secara terpadu dengan dukungan infrastruktur, promosi digital, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, sektor ini diyakini mampu menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat. Pariwisata tidak lagi dipandang sekadar aktivitas rekreasi, melainkan menjadi instrumen pembangunan yang menghubungkan masa lalu, kehidupan masa kini, dan harapan masa depan Aceh Utara.
Harapan Bupati Aceh Utara untuk Warisan Peradaban Islam
Langkah kaki para peziarah terdengar pelan di antara batu-batu nisan tua yang telah berusia ratusan tahun. Di kawasan Makam Kerajaan Samudera Pasai, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, waktu seolah berjalan lebih lambat. Ukiran kaligrafi pada batu nisan menjadi saksi bisu sebuah masa ketika kawasan ini dikenal sebagai pusat perdagangan dan peradaban Islam yang berpengaruh di Asia Tenggara.
Bagi sebagian orang, kompleks makam itu mungkin hanya terlihat sebagai peninggalan sejarah. Namun, bagi Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil atau yang akrab disapa Ayahwa, situs tersebut adalah cermin jati diri masyarakat Aceh Utara.
“Makam Kerajaan Samudera Pasai bukan sekadar tempat pemakaman para sultan. Di sinilah jejak kebesaran peradaban Islam Nusantara tersimpan. Ini adalah kebanggaan masyarakat Aceh Utara yang harus kita jaga bersama,” ujar Ayahwa.
Nama Samudera Pasai telah lama tercatat dalam berbagai literatur sejarah sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara. Dari pesisir utara Aceh inilah para pedagang dari Arab, India, Persia, hingga Tiongkok pernah singgah dan membangun hubungan dagang. Bersamaan dengan itu, berkembang pula tradisi keilmuan Islam yang melahirkan ulama dan pemikir berpengaruh pada masanya.
“Kita ingin anak-anak Aceh Utara mengetahui bahwa daerah ini pernah menjadi pusat peradaban besar. Dengan memahami sejarah, mereka akan memiliki kepercayaan diri, semangat belajar, dan kesadaran untuk menjaga identitas daerah,” katanya.
Ia menilai, Makam Kerajaan Samudera Pasai menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan religi. Tidak hanya menawarkan pengalaman ziarah, kawasan ini juga dapat menjadi ruang edukasi terbuka bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga wisatawan dari berbagai daerah.
Setiap tahun, pengunjung datang untuk menyaksikan langsung nisan-nisan kuno para sultan Samudera Pasai. Mereka mencari jejak Sultan Malikussaleh, pendiri kerajaan yang diyakini menjadi tonggak awal perkembangan Islam di Nusantara. Ada pula wisatawan yang datang karena rasa ingin tahu terhadap kisah kejayaan Aceh di masa silam.
Ayahwa meyakini, apabila dikelola secara serius, situs bersejarah tersebut mampu memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat sekitar. Kehadiran wisatawan dapat menggerakkan ekonomi lokal melalui usaha kuliner, jasa pemandu wisata, kerajinan tangan, hingga sektor usaha mikro lainnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pengembangan pariwisata tidak boleh mengabaikan aspek pelestarian.
“Nilai sejarah dan kesakralan kawasan harus tetap menjadi prioritas. Jangan sampai upaya pengembangan justru menghilangkan keaslian situs. Kita harus menjaga keseimbangan antara pelestarian dan pemanfaatan,” tegasnya.
Menurutnya, menjaga situs sejarah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah pusat, akademisi, komunitas sejarah, tokoh masyarakat, hingga warga di sekitar kawasan.
Masyarakat, kata dia, memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman, dan ramah bagi para pengunjung. Sikap sederhana seperti menjaga kebersihan, memberikan informasi yang baik kepada wisatawan, hingga ikut mempromosikan destinasi sejarah daerah dapat menjadi bentuk kecintaan terhadap warisan leluhur.
Ayahwa juga berharap semakin banyak kegiatan budaya, seminar, penelitian, hingga festival sejarah yang digelar di kawasan Samudera Pasai. Selain memperkuat promosi, kegiatan tersebut dapat memperkaya pemahaman publik tentang kontribusi besar kerajaan ini terhadap perkembangan Islam dan peradaban Nusantara.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Makam Kerajaan Samudera Pasai menjadi pengingat bahwa Aceh Utara memiliki akar sejarah yang kuat. Batu-batu nisan yang berdiri kokoh bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pesan yang melintasi zaman: bahwa sebuah peradaban besar pernah tumbuh dari tanah ini, dibangun oleh semangat keilmuan, keterbukaan, dan nilai-nilai keislaman.
“Warisan ini adalah amanah yang harus kita jaga bersama. Kita tidak hanya mewarisi kebesarannya, tetapi juga bertanggung jawab memastikan generasi mendatang tetap dapat mengenalnya dengan baik,” ujar Ayahwa.
Menjelang senja, ketika cahaya matahari mulai meredup di antara pepohonan yang menaungi kompleks makam, para peziarah perlahan meninggalkan kawasan itu. Namun, kisah tentang Samudera Pasai tak pernah benar-benar usai. Ia terus hidup dalam ingatan masyarakat Aceh Utara, menjadi sumber kebanggaan sekaligus pengingat bahwa masa depan yang kuat hanya dapat dibangun oleh mereka yang menghargai sejarahnya sendiri.
Di balik upaya menjaga denyut sejarah Samudera Pasai, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara juga terus memikirkan bagaimana warisan besar itu dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat modern tanpa kehilangan nilai-nilai autentiknya. Di titik inilah peran sektor pariwisata menjadi penting, bukan sekadar sebagai penggerak ekonomi, tetapi juga sebagai jembatan untuk memperkenalkan kembali identitas sejarah Aceh Utara kepada dunia.
Upaya Dinas
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Aceh Utara, Zulkifli, menilai bahwa Makam Kerajaan Samudera Pasai merupakan salah satu aset wisata sejarah paling berharga yang dimiliki daerah. Menurutnya, tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki bukti fisik kejayaan kerajaan Islam sedekat dan sekuat yang dimiliki Aceh Utara saat ini.
“Samudera Pasai memiliki nilai yang sangat istimewa. Ini bukan hanya milik Aceh Utara, tetapi bagian dari sejarah besar bangsa Indonesia. Karena itu, sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk merawat, memperkenalkan, dan mengembangkannya secara berkelanjutan,” ujar Zulkifli.
Ia mengatakan, minat masyarakat terhadap wisata berbasis sejarah dan religi terus menunjukkan perkembangan yang positif. Pengunjung tidak lagi hanya mencari destinasi untuk berlibur, tetapi juga pengalaman yang memberikan pengetahuan, inspirasi, serta kedekatan emosional dengan nilai-nilai budaya dan spiritual.
Menurut Zulkifli, Makam Kerajaan Samudera Pasai memiliki semua unsur tersebut. Selain menghadirkan kisah tentang kejayaan kerajaan Islam pertama di Nusantara, kawasan ini juga menawarkan pengalaman reflektif bagi para peziarah yang datang untuk mengenang perjuangan para pendahulu dalam menyebarkan ajaran Islam.
Untuk itu, pihaknya terus mendorong berbagai upaya penguatan destinasi, mulai dari peningkatan kualitas pelayanan wisata, pengembangan sumber daya manusia, hingga memperluas promosi melalui berbagai platform digital. Menurutnya, promosi wisata saat ini tidak lagi dapat dilakukan secara konvensional semata, melainkan harus mampu menjangkau audiens yang lebih luas melalui media sosial dan berbagai kanal komunikasi digital.
“Kita perlu menghadirkan narasi yang menarik tentang Samudera Pasai. Generasi muda harus merasa bahwa sejarah itu dekat dengan kehidupan mereka. Dengan pendekatan kreatif dan pemanfaatan teknologi digital, kita optimistis destinasi ini akan semakin dikenal,” ujarnya.
Zulkifli juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan kawasan sejarah tersebut. Pemerintah daerah, akademisi, komunitas sejarah, pelaku ekonomi kreatif, hingga masyarakat sekitar harus berjalan bersama agar manfaat yang dihasilkan dapat dirasakan secara merata.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan pengembangan destinasi wisata berbasis sejarah. Kehadiran pelaku usaha kecil, pemandu wisata lokal, perajin cendera mata, hingga kelompok sadar wisata dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang tumbuh seiring meningkatnya kunjungan wisatawan.
“Yang paling penting, masyarakat harus menjadi bagian dari proses ini, bukan sekadar penonton. Ketika masyarakat merasakan manfaat ekonomi dan memiliki rasa bangga terhadap sejarah daerahnya, maka upaya pelestarian akan berjalan dengan sendirinya,” tutur Zulkifli.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor pariwisata, ia tetap optimistis bahwa Makam Kerajaan Samudera Pasai akan terus berkembang menjadi destinasi unggulan Aceh Utara. Dengan kekuatan sejarah yang dimiliki, dukungan pemerintah, serta semangat masyarakat untuk menjaga warisan leluhur, Samudera Pasai diyakini mampu menjadi pintu bagi dunia untuk mengenal lebih dekat peradaban Islam Nusantara yang pernah berjaya dari pesisir utara Aceh.
“Harapan kami sederhana. Semoga semakin banyak orang datang, belajar, dan mencintai Samudera Pasai. Sebab ketika kita menjaga sejarah, sesungguhnya kita sedang menjaga jati diri dan masa depan daerah ini,” pungkas Zulkifli.
|ADVERTORIAL
LHOKSUKON- Tim Polres Lhokseumawe, Provinsi Aceh menyelidiki kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan…
Bantuan Tidak Boleh Dipotong, Jadup Tahap II Sedang Berproses Aceh Timur– – Pemerintah Kabupaten Aceh…
ACEH TIMUR – Harapan masyarakat Desa Bhoem dan Desa Blangsimpo yang sempat nyaris padam kini…
Aceh Timur– Kesibukan sebagai kepala daerah tidak menghalangi Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I.,…
Dari Dapur Keude Geudong ke Pasar Digital, Manisnya Warisan Samudera Pasai yang Bertahan Melintasi Zaman…
ACEH UTARA – Hari pertama masuk sekolah di SD Negeri 2 Dewantara, Kabupaten Aceh Utara,…
This website uses cookies.