Dari Dapur Keude Geudong ke Pasar Digital, Manisnya Warisan Samudera Pasai yang Bertahan Melintasi Zaman
JIKA masyarakat Betawi memiliki roti buaya sebagai simbol dalam tradisi pernikahan, masyarakat Aceh memiliki bolu ikan atau yang lebih dikenal dengan nama bhoi. Kue tradisional berbentuk ikan ini bukan sekadar panganan manis. Ia adalah simbol penghormatan, doa, kemakmuran, dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah gempuran makanan modern, tren dessert kekinian, dan derasnya arus digitalisasi, bhoi justru menunjukkan daya tahannya. Dari dapur-dapur sederhana di Pasar Keude Geudong, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, bolu ikan kini menjelajah hingga ke berbagai kota di Indonesia melalui marketplace dan media sosial.
Siang itu, Senin (13/7/2026), suasana Pasar Keude Geudong berlangsung seperti biasa.
Deretan kios berjejer di tepian pasar tua yang berada tidak jauh dari kawasan bersejarah Samudera Pasai. Pembeli datang silih berganti. Sebagian mencari kebutuhan dapur, sebagian lagi singgah di kios-kios kue tradisional.
Aroma bolu yang baru matang menyambut siapa saja yang melintas.
Di balik etalase sederhana, Darwati atau yang akrab disapa Kak Dar tampak sibuk melayani pembeli. Tangannya cekatan membungkus pesanan. Sesekali ia tersenyum menawarkan dagangan.
“Mau saya bungkus berapa? Silakan dicoba dulu. Hantarannya kapan?” tanyanya ramah.
Kalimat itu hampir setiap hari keluar dari mulutnya. Sudah delapan tahun terakhir perempuan tersebut menggantungkan hidup dari berjualan bolu ikan. Baginya, bhoi bukan sekadar komoditas dagang.
Ada sejarah yang sedang ia rawat.Ada tradisi yang sedang ia pertahankan.
“Kalau bukan untuk hantaran, biasanya dibeli untuk oleh-oleh atau dimakan sendiri. Tapi memang paling banyak masih untuk acara adat,” katanya.
Di etalase kiosnya tersusun rapi puluhan bolu ikan berwarna kuning keemasan.
Ukuran kecil dijual sekitar Rp1.000 per buah. Sementara ukuran besar yang lazim digunakan dalam hantaran adat dijual dengan harga mulai Rp10.000 per buah.
Bagi masyarakat Aceh, khususnya di wilayah pesisir utara, ikan memiliki makna simbolik yang sangat kuat.
Ikan dipandang sebagai lambang kehidupan. Laut menjadi sumber penghidupan.
Rezeki diharapkan mengalir seluas samudera. Karena itulah bentuk ikan dipilih sebagai representasi harapan bagi pasangan yang akan memulai rumah tangga.
Di Aceh, bhoi hampir tidak pernah absen dari hantaran pernikahan.
Kehadirannya dianggap sebagai doa.
Rasa manis melambangkan harapan agar kehidupan rumah tangga dipenuhi kebahagiaan.Bentuk ikan menggambarkan kecukupan rezeki. Sementara jumlahnya yang banyak dalam hantaran menjadi simbol kelimpahan.
“Kami diajarkan begitu oleh orang tua dulu,” ujar Kak Dar.
“Kalau menikah, bolu ikan itu wajib ada.”
Tradisi tersebut dipercaya memiliki keterkaitan erat dengan sejarah panjang Samudera Pasai. Kecamatan Samudera, tempat Pasar Keude Geudong berada, merupakan kawasan yang diyakini sebagai pusat Kerajaan Samudera Pasai.
Kerajaan Islam pertama di Nusantara itu berkembang sebagai pusat perdagangan internasional sejak abad ke-13.
Pedagang Arab, Gujarat, Persia, hingga Tiongkok singgah di pelabuhan-pelabuhan Pasai.Budaya masyarakat tumbuh dari pertemuan berbagai peradaban. Namun identitas pesisir tetap menjadi fondasi kehidupan.
Laut menjadi nadi ekonomi. Ikan menjadi simbol kemakmuran.
Dalam berbagai literatur mengenai kuliner Aceh, bhoi disebut telah hadir sejak ratusan tahun silam.Bahkan dahulu hanya dinikmati oleh kalangan bangsawan.
Menurut sejumlah catatan, pada masa Kesultanan Aceh, bhoi disajikan kepada tamu-tamu kehormatan sebagai bentuk penghormatan.
Dahulu bahan pembuatannya pun tergolong mewah. Bhoi dibuat menggunakan tepung beras, telur bebek, dan gula yang pada masa itu tidak mudah diperoleh.
Karena itu, hanya keluarga tertentu yang mampu menyajikannya.
Namun seiring waktu, bahan-bahan tersebut mengalami penyesuaian. Tepung terigu menggantikan tepung beras.Telur ayam menjadi pilihan yang lebih terjangkau. Akibatnya, tekstur bhoi berubah menjadi lebih lembut. Masyarakat dari berbagai lapisan kini dapat menikmatinya.
“Bhoi dulu memang makanan orang berada,” kata Kak Dar. “Tapi sekarang semua orang bisa membelinya.”
Perjalanan bhoi mencerminkan kemampuan budaya Aceh untuk beradaptasi.
Tradisi tidak membeku. Ia bergerak. Menyesuaikan diri dengan zaman. Namun tetap mempertahankan maknanya. Dulu bhoi hanya berada di istana. Kemudian hadir dalam hantaran pernikahan. Lalu dijual di pasar tradisional.
Kini masuk ke dalam etalase marketplace.
Nida Wardani, pedagang lain yang akrab disapa Kak Non, merasakan langsung perubahan tersebut. Menurutnya, beberapa tahun terakhir menjadi titik balik bagi pelaku usaha kecil. Pola belanja masyarakat berubah drastis.
“Kami sekarang banyak menerima pesanan lewat Shopee, WhatsApp, Facebook, dan Instagram,” katanya.
Makassar.
Bahkan ada yang meminta dikirim ke luar Sumatera. Sebagian besar merupakan masyarakat Aceh yang merantau. Mereka tetap mempertahankan adat.
“Sekaya apa pun dia, setinggi apa pun jabatannya, kalau keluarganya orang Aceh, biasanya tetap memakai bolu ikan saat acara adat,” ujar Kak Non.
“Karena itu pesanan tetap ada.”
Digitalisasi telah mengubah wajah UMKM.
Jika dulu pembeli harus datang langsung ke pasar, kini transaksi dapat dilakukan hanya melalui telepon genggam. Anak-anak muda membantu orang tua mereka membuat akun media sosial. Belajar memotret produk. Mengemas barang.
Mengatur jasa ekspedisi. Tradisi yang dahulu hanya dikenal dalam lingkup lokal kini menjangkau pasar nasional.
“Kami belajar pelan-pelan,” kata Kak Non.
“Awalnya tidak tahu apa itu marketplace.”
“Sekarang malah banyak pembeli dari sana.”
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa modernitas tidak selalu mengikis budaya. Teknologi justru dapat menjadi sarana pelestarian. Bagi generasi Z, mengenal bhoi mungkin tidak lagi melalui dapur nenek. Mereka mengenalnya dari video pendek TikTok. Dari unggahan Instagram. Atau dari etalase toko daring.
Tradisi hadir dalam format baru. Namun esensinya tetap sama.
Kue bhoi masih menjadi salah satu kuliner tradisional yang paling diminati masyarakat Aceh.
Bentuknya beragam, mulai dari ikan, bunga, bintang, hingga bentuk-bentuk dekoratif lainnya. Namun bentuk ikan tetap menjadi yang paling populer.
Pendapatan pedagang dapat mencapai Rp800 ribu hingga Rp1 juta per hari ketika permintaan meningkat.
Dalam sehari, sekitar 800 kue dapat terjual di pasar tradisional.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional memiliki daya tahan ekonomi yang kuat. Apalagi jika didukung inovasi pemasaran.
Bagi Kak Dar, semua itu menghadirkan rasa syukur sekaligus kekhawatiran.
Ia bersyukur karena bhoi tetap diminati.
Namun ia khawatir jika suatu hari nanti tidak ada lagi generasi muda yang bersedia meneruskan keterampilan membuatnya.
“Saya berharap anak-anak muda tetap mau belajar,” katanya.
“Kalau tidak diteruskan, nanti siapa lagi yang membuatnya?”
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Banyak usaha tradisional berhenti karena tidak memiliki regenerasi. Anak-anak memilih pekerjaan lain.
Padahal keahlian membuat bhoi tidak dapat dipelajari dalam sehari.
Ia membutuhkan ketelitian. Kesabaran. Dan pengalaman bertahun-tahun.
Menjelang sore, aktivitas di Pasar Keude Geudong mulai melambat. Sebagian pedagang membereskan dagangan. Sebagian masih menunggu pembeli terakhir.
Kak Dar menyusun kembali bolu ikan di etalasenya. Merapikan plastik pembungkus.
Menghitung sisa pesanan. Bagi orang luar, mungkin itu hanya rutinitas biasa.
Namun sesungguhnya, setiap bolu yang ia jual membawa cerita panjang tentang sejarah, penghormatan terhadap perempuan, keteguhan menjaga tradisi, serta kemampuan masyarakat Aceh beradaptasi dengan zaman.
Di balik manisnya rasa bhoi, tersimpan jejak Samudera Pasai.
Dan dari pasar sederhana di Keude Geudong, warisan itu terus berlayar melintasi generasi.
Menurut Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, SE, MM atau yang akrab disapa Ayahwa, Bolu Bhoi bukan sekadar penganan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Aceh Utara yang harus dijaga dan dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi daerah.
Ia menilai, di tengah arus modernisasi dan masuknya berbagai produk makanan dari luar, keberadaan Bolu Bhoi justru memiliki nilai lebih karena mengandung sejarah, kearifan lokal, serta cita rasa khas yang tidak dimiliki daerah lain. Karena itu, pelestarian Bolu Bhoi harus dilakukan secara serius melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat.
“Bolu Bhoi bukan hanya kue. Di dalamnya ada cerita tentang tradisi, ada identitas masyarakat, ada nilai kebersamaan yang diwariskan oleh orang tua kita sejak dahulu. Ini adalah warisan yang harus kita jaga bersama, sekaligus kita dorong menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat Aceh Utara,” ujar Ayahwa.
Menurutnya, selama ini Bolu Bhoi telah menjadi bagian dari berbagai momentum penting dalam kehidupan masyarakat Aceh. Kue tradisional tersebut hadir dalam acara keluarga, kenduri, peringatan hari besar keagamaan, hingga menjadi buah tangan bagi kerabat yang datang dari luar daerah.
Kedekatan emosional masyarakat terhadap Bolu Bhoi menjadi modal sosial yang sangat kuat untuk mengembangkannya menjadi produk unggulan daerah.
Ayahwa mengatakan, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara memiliki komitmen untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha kuliner tradisional agar mampu meningkatkan kualitas produksi, memperbaiki kemasan, memperluas jaringan pemasaran, serta memanfaatkan teknologi digital dalam mempromosikan produknya.
“Kita ingin Bolu Bhoi naik kelas. Kualitasnya harus terus dijaga, kemasannya dibuat lebih menarik, pemasarannya diperluas, sehingga tidak hanya dikenal di Aceh Utara, tetapi juga mampu menembus pasar nasional bahkan internasional,” katanya.
Ia meyakini bahwa pengembangan Bolu Bhoi tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Banyak usaha rumahan yang selama ini bertahan dengan memproduksi Bolu Bhoi. Jika didukung dengan pelatihan, pendampingan, akses permodalan, serta promosi yang tepat, usaha-usaha tersebut diyakini dapat berkembang lebih besar dan menyerap tenaga kerja lokal.
Menurut Ayahwa, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat. Oleh sebab itu, produk-produk lokal seperti Bolu Bhoi harus mendapatkan perhatian khusus agar mampu bersaing di tengah perubahan pasar yang semakin dinamis.
“Ketika kita membeli dan mempromosikan Bolu Bhoi, sesungguhnya kita sedang membantu ekonomi keluarga-keluarga kecil di Aceh Utara. Kita sedang menjaga tradisi, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi rakyat secara bersama-sama,” ujarnya.
Lebih jauh, Ayahwa juga melihat Bolu Bhoi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari paket wisata kuliner Aceh Utara. Wisatawan yang datang menikmati destinasi alam, sejarah, maupun budaya dapat diperkenalkan dengan kekayaan cita rasa khas Negeri Pase melalui sajian Bolu Bhoi yang autentik.
Ia berharap setiap tamu yang berkunjung ke Aceh Utara dapat membawa pulang kesan mendalam, tidak hanya melalui keindahan tempat yang mereka kunjungi, tetapi juga melalui pengalaman menikmati kuliner tradisional yang sarat makna.
“Kita ingin orang mengenal Aceh Utara bukan hanya karena sejarah dan alamnya, tetapi juga karena kekayaan kulinernya. Bolu Bhoi dapat menjadi salah satu duta kuliner yang memperkenalkan karakter masyarakat Aceh Utara yang ramah, kreatif, dan tetap menjaga warisan leluhurnya,” kata Ayahwa.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mencintai, mengonsumsi, serta mempromosikan produk-produk lokal sebagai bentuk kebanggaan terhadap daerah sendiri. Menurutnya, kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam menghargai dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Mari kita jadikan Bolu Bhoi sebagai kebanggaan Aceh Utara. Warisan ini jangan hanya dikenang sebagai cerita masa lalu, tetapi harus kita hadirkan sebagai peluang masa depan. Dengan kerja sama dan semangat bersama, saya yakin Bolu Bhoi akan tumbuh menjadi produk unggulan yang mampu mengharumkan nama Aceh Utara di berbagai daerah,” pungkas Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Aceh Utara, Zulkifli, menilai Bolu Bhoi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu ikon wisata kuliner daerah. Menurutnya, kekuatan sebuah destinasi wisata saat ini tidak hanya terletak pada keindahan alam atau kekayaan sejarah yang dimiliki, tetapi juga pada pengalaman kuliner yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi para pengunjung.
Ia mengatakan, hampir setiap daerah yang berhasil membangun sektor pariwisatanya memiliki produk kuliner khas yang menjadi identitas sekaligus daya tarik bagi wisatawan. Aceh Utara, menurutnya, juga memiliki peluang yang sama melalui keberadaan Bolu Bhoi yang telah lama dikenal dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat.
“Bolu Bhoi merupakan salah satu kekayaan kuliner warisan masyarakat Aceh Utara yang memiliki cita rasa khas dan nilai budaya yang kuat. Produk ini tidak boleh hanya dipandang sebagai makanan tradisional biasa, tetapi harus ditempatkan sebagai bagian dari identitas daerah yang patut dibanggakan,” ujar Zulkifli.
Menurutnya, pengembangan Bolu Bhoi perlu dilakukan secara terintegrasi dengan sektor pariwisata. Wisatawan yang datang ke Aceh Utara harus diperkenalkan dengan berbagai produk unggulan daerah, termasuk kuliner tradisional yang memiliki cerita dan nilai sejarah di balik proses pembuatannya.
“Kita ingin setiap orang yang datang ke Aceh Utara memiliki pengalaman yang utuh. Mereka menikmati destinasi wisata, mengenal budaya masyarakat, lalu membawa pulang produk khas daerah sebagai buah tangan. Dalam konteks itu, Bolu Bhoi memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi oleh-oleh unggulan dari Negeri Pase,” katanya.
Zulkifli menjelaskan, Disporapar Aceh Utara akan terus mendorong promosi kuliner lokal melalui berbagai kegiatan, seperti festival budaya, pameran pariwisata, event olahraga, hingga promosi digital melalui media sosial. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan Bolu Bhoi kepada pasar yang lebih luas.
Ia juga menilai bahwa pelaku UMKM yang memproduksi Bolu Bhoi perlu mendapatkan pendampingan agar mampu meningkatkan daya saing produknya. Mulai dari standar kualitas, inovasi rasa tanpa meninggalkan keaslian produk, desain kemasan yang lebih menarik, hingga strategi pemasaran berbasis digital harus menjadi perhatian bersama.
“Produk yang bagus harus didukung dengan kemasan yang baik dan promosi yang tepat. Generasi sekarang sangat dekat dengan media digital. Karena itu, promosi Bolu Bhoi juga harus mengikuti perkembangan zaman agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Lebih lanjut, Zulkifli mengatakan bahwa pengembangan wisata kuliner dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Ketika permintaan terhadap Bolu Bhoi meningkat, maka akan semakin banyak pelaku usaha yang terlibat, mulai dari pembuat kue, pemasok bahan baku, tenaga pemasaran, hingga sektor pendukung lainnya.
Menurutnya, kondisi tersebut akan menciptakan efek berganda yang mampu memperkuat ekonomi lokal dan membuka peluang usaha baru, khususnya bagi kaum perempuan dan generasi muda yang selama ini banyak terlibat dalam usaha kuliner rumahan.
“Kita berharap Bolu Bhoi tidak hanya bertahan sebagai warisan kuliner, tetapi tumbuh menjadi produk ekonomi kreatif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan kolaborasi semua pihak, saya optimistis Bolu Bhoi dapat menjadi salah satu ikon kuliner Aceh Utara yang dikenal secara lebih luas,” kata Zulkifli.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk terus mencintai dan menggunakan produk-produk lokal sebagai bentuk dukungan terhadap para pelaku UMKM daerah. Menurutnya, kemajuan pariwisata harus berjalan seiring dengan tumbuhnya kebanggaan terhadap identitas dan kekayaan budaya sendiri.
“Kalau bukan kita yang menjaga dan mempromosikan warisan kuliner daerah, siapa lagi. Mari bersama-sama menjadikan Bolu Bhoi sebagai kebanggaan Aceh Utara, bukan hanya sebagai oleh-oleh khas, tetapi juga sebagai simbol kreativitas, ketekunan, dan semangat masyarakat Negeri Pase dalam membangun daerahnya,” pungkas Zulkifli.
|ADVERTORIAL
ACEH TIMUR – Harapan masyarakat Desa Bhoem dan Desa Blangsimpo yang sempat nyaris padam kini…
Aceh Timur– Kesibukan sebagai kepala daerah tidak menghalangi Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I.,…
ACEH UTARA – Hari pertama masuk sekolah di SD Negeri 2 Dewantara, Kabupaten Aceh Utara,…
ACEH TIMUR-Penemuan jenazah seorang bayi perempuan di aliran Sungai Arakundo, Kecamatan Simpang Ulim, Minggu (12/07/2026),…
Muara Enim – PT Pupuk Indonesia (Persero) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pertanian berkelanjutan melalui…
LHOKSEUMAWE – Koperasi Keuramat Jaya Energy (KJE) FC memastikan diri sebagai kampiun Liga Eksekutif JPFC…
This website uses cookies.