Categories: Wisata

Penganan Masa Lalu Itu Ada di Bireuen…

KAUM ibu terlihat duduk santai di sebuah warung kopi di Desa Cot Bada Baroh, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Sabtu (17/4/2021). Mereka datang dari Kota Lhokseumawe dan sebagian warga lokal yang menghabiskan sore dengan menu masa lampau di warung yang dibuka setahun terakhir itu.

 

Untuk menuju ke lokasi itu, Anda bisa menggunakan rute nasional jalan Medan – Banda Aceh. Setiba di Masjid Agung Peusangan, lihatlah jalan di samping masjid itu. Ikuti jalan tersebut lurus hingga menemukan kafe dengan konsep masa lalu itu di sisi kanan. Disitulah kafe dengan nama Jameun Kupi (Kopi Masa Lalu).

 

Di kafe itu, seluruh bahan bekas menjadi bernilai guna. Lihat saja misalnya, sepeda ontel, tempat penyimpan botol dijadiakan tempat duduk, hingga alat pertanian seperti topi petani dan lain sebagainya.

 

Untuk penganan juga mengacu ke masa lampau. Lihatlah misalnya kuphi khop (kopi dengan cangkir terbalik dari Meulaboh, Aceh Barat), ie raminet (air limun), aneka jus, teh dan minuman jahe.

 

Ada pula misalnya, air nira, dughok, timphan (lepat), jagung dicampur kelapa, ubi rebus, mi Aceh, sirih dan lainnya.

 

Semua menu itu era 1960-1980 populer di penganan masyarakat Aceh. Pemilik kafe itu, Khairul Nazli, menyebutkan, dia mengusung tema masa lalu. “Peunajoh awak awai (makanan orang masa lalu). Ini kekuatan kami. Sehingga orang suka datang kemari,” katanya.

 

Di kafe itu, Nazli bersama delapan karyawannya buka hingga malam hari. “Empat pekerja untuk pagi sampai sore, sisanya buat malam. Jadi total delapan pekerja sekarang ini,” katanya.

Dia optimis, kafe itu mampu bersaing dengan aneka kafe dengan konsep instagramabel. Kafe ini, katanya malah menjadi buruan masyarakat untuk berfoto. “Mereka rindu masa lalu. Dan, kita menyediakan itu,” sebutnya.

Salah seorang warga Lhokseumawe, Syukurdi, menyebutkan dia datang bersama keluarganya setelah kafe itu menjadi buah bibir di media sosial. Banyak foto selebram di kafe itu yang tampil di linimasa beragam media sosial.

 

“Jadi penasaran juga. Maka saya khusus datang kemari,” katanya.

 

Untuk harga makanan terbilang masih sangat terjangkau. Dia mengapresiasi konsep kafe itu. Namun, dia menyarankan agar lahan parkir lebih luas. Sehingga mudah memarkirkan kendaraan roda empat.

 

“Ini menjadi kekuatan kafe ini. Konsep penganan masa lalu. Saya pikir, ini akan menarik buat semua orang,” pungkasnya.

 

Nah, penasaran akan masa lalu masyarakat Aceh, silakan berkunjung ke kafe itu jika melintas di provinsi paling ujung Pulau Sumatera itu. Selamat mencoba.

|KCM

Bagikan Postingan
Redaksi

Dapatkan berita terbaru dari Bakata.id dengan berlangganan notifikasi portal berita ini.

Recent Posts

Langkah Hukum Disiapkan, PWI Lhokseumawe Laporkan Dua Oknum TNI Terkait Dugaan Penganiayaan Wartawan

LHOKSEUMAWE – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lhokseumawe menegaskan akan menempuh langkah hukum terkait dugaan penganiayaan terhadap…

11 hours ago

Sepekan Menahan Nyeri, BPJS Turun Tangan: Pasien Patah Tulang Akhirnya Dirujuk ke RS Kesrem

LHOKSEUMAWE – Kasus Syukri (48), petani asal Gampong Bayi, Dusun Rubiah, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh…

11 hours ago

ACE INN by Calandra Hadir di Banda Aceh, Hotel Budget Baru dengan Konsep Modern dan Harga Bersahabat

BANDA ACEH — Kabar baik bagi masyarakat dan wisatawan yang sedang mencari penginapan nyaman dengan…

1 day ago

Haiqal Terjatuh di Tengah Kericuhan, Danramil Tanah Luas: Tak Ada TNI yang Memukul

ACEH UTARA – Insiden yang menimpa Haiqal saat pertandingan turnamen sepak bola di Kecamatan Tanah Luas…

1 day ago

Dipukul Dua Oknum TNI Saat Liput Kericuhan, Haikal: Saya Dibidik, Bukan Diamankan

ACEH UTARA – Wartawan Beritamerdeka.net, Haikal Alfikri, mengungkap kronologi dugaan pemukulan terhadap dirinya oleh dua oknum…

1 day ago

PMI dan Habitat Perkuat Kapasitas Masyarakat untuk Hunian yang Lebih Aman di Aceh Utara

ACEH UTARA - Palang Merah Indonesia (PMI) bersama Habitat for Humanity Indonesia memperkuat kapasitas masyarakat…

1 day ago

This website uses cookies.