Categories: Polhukam

Tsunami 16 Tahun Lalu, Sayup-sayup Doa untuk Syuhada di Samudera …

DUA tenda dibangun di depan Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Sabtu (26/12/2020). Di bawah tenda, pria dan wanita duduk bersimpuh. Berzikir dan berdoa, mengenang peristiwa hari ini, 16 tahun lalu, tsunami Aceh nan maha dahsyat.

Dari jauh terdengar doa itu sayup-sayup lewat pengeras suara seadanya. Sejumlah panglima laut dan masyarakat larut dan luruh dalam doa mengenang syuhada yang tewas saat tsunami menghantam nyaris seluruh Provinsi Aceh.

Kali ini peringatan tsunami sangat sederhana. Pandemi Covid-19 membuat kerumunan sangat dilarang. Karena itu pula, hanya sebagian warga yang datang ke lokasi doa bersama.

Pusong, sebagai salah satu wilayah bibir pantai tak pelak merasakan dampak bencana terbesar di tanah air itu. Sebagian besar kaum ibu menitikan air mata. Mengenang saat mereka harus berlari ke pusat kota. Menjauh dari bibir pantai.

Saat itu, puluhan warga berlari ke Lapangan Hiraq, Kota Lhokseumawe. “Saya bawa anak-anak lari. Karena, air laut surut. Saya ingat pesan nenek kami, bahwa surut tidak normal itu akan kembali ke daratan lebih dahsyat. Maka, saya lari. Begitu juga warga lainnya,” kenang Samsiah (50), sembari mengusap air mata.

Bulingan jernih terlihat jelas menetes di pipinya. “Syukur, kami tidak ada korban jiwa. Namun, keluarga di Banda Aceh hampir habis semua,” katanya.

Ya, Banda Aceh dan Pantai Barat Selatan, Provinsi Aceh terparah mengalami musibah ini. Sedangkan Lhokseumawe ke pantai timur Provinsi Aceh hanya sebagian bibir pantai yang disapu gelombang dalam bahasa Aceh dikenal dengan sebutan alon buluek atau smong.

Pawang Laot, Ujong Blang, Rusli Yusuf, di lokasi menyebutkan, peringatan tsunami bagi nelayan sangat sakral. Karena itu, nelayan tak pernah melaut di tanggal 25-26 Desember setiap tahunnya.

“Kami berhenti melaut. Ingin mengenang keluarga, saudara yang meninggal dunia saat tsunami,” katanya.

Dia mengajak, seluruh masyarakat Aceh menjadikan tsunami sebagai tonggak perubahan perilaku. “Tuhan telah menguji kita dengan dahsyat. Ini harusnya jadi pelajaran, agar kita terus lebih baik untuk semua orang,” pungkasnya.

Di sejumlah bibir pantai Aceh lainnya juga digelar doa bersama. Peristiwa dahsyat tsunami menjadi pemantik ingatan, akan kenangan pada mereka yang telah pergi mendahului kita.

“Alfatihah”.

|KCM

Bagikan Postingan
Redaksi

Dapatkan berita terbaru dari Bakata.id dengan berlangganan notifikasi portal berita ini.

Recent Posts

350 Petani Sawit Aceh Timur Dapat Bantuan Rehabilitasi Pascabanjir, 411 Hektare Kebun Dipulihkan

IDI– Sebanyak 350 petani sawit swadaya di Kabupaten Aceh Timur mendapat bantuan rehabilitasi kebun kelapa…

1 day ago

Bupati Al-Farlaky Kumpulkan Pimpinan PKS, Bahas Harga TBS, CSR hingga Investasi di Aceh Timur

ACEH TIMUR – Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si., memimpin rapat koordinasi bersama…

1 day ago

Polisi Musnahkan 3.000 Pohon Ganja di Aceh Utara, Dua Pemilik Kebun Ditangkap

ACEH UTARA – Personel Polres Lhokseumawe memusnahkan sekitar 3.000 batang ganja yang ditanam di lahan…

1 day ago

Temuan BPK: Biaya Operasional-Insentif Bebani Dana Zakat Rp559 Juta di Baitul Mal Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Aceh menemukan sejumlah permasalahan terkait realisasi anggaran pada…

1 day ago

PIM Gelar Khitanan Massal untuk 80 Anak di Lingkungan Perusahaan

ACEH UTARA – PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) kembali menggelar kegiatan Khitanan Massal (Sunat Rasul)…

1 day ago

Dari Makam Sultan Peureulak, Bupati Al-Farlaky Gaungkan Kebangkitan Islam Pertama Asia Tenggara

Peureulak – Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si., menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Aceh…

2 days ago

This website uses cookies.