Categories: News

Kisah Pilu Nabila, Penderita Bocor Jantung dan Gizi Buruk Aceh

NABILA Aziati bergerak aktif kala digendong ibundanya Asmani (39). Tubuh bocah berusia 3 tahun itu kurus kering. Dia diagnosa dokter menderita gizi buruk, bocor jantung, katarak, dan gangguan pendengaran.

Anak keempat dari pasangan Ali Rahman dan Asmani ini harus melawan penyakit yang dideritanya sejak beberapa bulan usai lahir. Bocah asal Desa Sua-sua Kecamatan Teupah Tengah, Simeulue, Aceh awalnya layak bayi lainnya. Dia lahir normal dengan berat badan 2,1 kilogram.

Perubahan mulai muncul kala Nabila berusia satu bulan. Mata kirinya memutih. Setelah dibawa ke rumah sakit, bayi mungil itu dinyatakan mengidap katarak.

Dua bulan kemudian, mata kanan ikut memutih. Kondisi Nabila mulai berubah. Dia kerap menangis dan rewel. Pertumbuhannya pun tergolong lambat. Ali dan Asmani memutuskan membawa buah hatinya berobat ke rumah sakit umum di Simeulue.

“Pada usia sembilan bulan, dia kami periksa ke dokter dan dinyatakan ada kelainan pada jantungnya. Di rumah sakit Simeulue peralatannya kurang lengkap sehingga dirujuk ke Banda Aceh,” kata Asmani saat ditemui di rumah singgah Blood For Life Foundation (BFLF) di Banda Aceh, Senin (1/7/2019).

Mendengar sang buah hati harus dirujuk ke rumah sakit provisi, Asmani berembuk dengan Ali dan keluarga mereka. Setelah bermusyawarah, akhirnya diputuskan menunda membawa Nabila berobat.

Alasannya masalah ekonomi. Asmani yang berprofesi sebagai guru honorer di SD 1 Teupah Barat dan suaminya sebagai penjual ikan tidak punya cukup biaya untuk ke Banda Aceh. Pasangan suami-istri ini memilih menabung dulu.

“Saya sisihkan uang dari gaji sebagai guru honor, kadang sebulan Rp 100 ribu, kadang Rp 200 ribu. Bapaknya juga menabung uang dari hasil jualan ikan keliling,” jelas Asmani dengan mata berkaca-kaca.Selama proses menabung, Nabila dirawat di rumah. Dia tidak lagi dibawa ke rumah sakit di Simeulue. Soalnya, dokter terkait penyakit yang diderita Nabila hanya bertugas selama dua hari dalam sebulan.

Asmani hanya bisa pasrah. Kondisi Nabila kala itu semakin mengkhawatirkan. Berat badan terus menyusut dan matanya tidak dapat melihat secara normal.

Dua tahun berselang, Asmani dan Ali berhasil mengumpulkan uang Rp 6,5 juta. Keduanya akhirnya membawa sang buah hati ke rumah sakit umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh.

Mereka berangkat dari Simeulue saat Ramadhan lalu. Perjalanan yang ditempuh tergolong berat. Dari Simeulue, keluarga ini harus menyeberang dulu ke daratan Aceh Selatan menggunakan kapal Fery dengan waktu tempuh selama sembilan jam.

Dari Aceh Selatan ke Banda Aceh ditempuh lewat jalur darat selama 9 jam perjalanan. Begitu tiba, pasangan ini langsung membawa putri mereka ke rumah sakit. Nabila pun akhirnya ditangani sejumlah dokter.

“Menurut dokter, dia mengalami kelainan jantung, masalah pendengaran, katarak dan kekurangan gizi,” ungkapnya.

Sebulan di Banda Aceh, Asmani awalnya ngekost di sebuah rumah tak jauh dari rumah sakit. Saban hari, dia membawa Nabila menemui dokter sesuai jadwal. Baru pada Sabtu (29/6/2019) kemarin, dia dijemput relawan rumah singgah BFLF untuk tinggal di sana.

Selama berobat di Banda Aceh, kondisi Nabila sudah mulai ada peningkatan: berat badan bertambah, dan sudah dapat duduk meski hanya beberapa menit.

“Sebelumnya tidak bisa duduk. Sekarang Alhamdulillah sudah ada perkembangan,” ungkap Asmani.

Menurut Asmani, biaya pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan. Namun dia butuh biaya untuk merawat Nabila selama dalam pengobatan di Banda Aceh. Meski demikian, dia mengaku bersyukur sudah dapat membawa sang buah hati berobat ke rumah sakit provinsi.

“Cita-cita kami bawa anak kami ke Banda Aceh tercapai,” imbuh Asmani. |DTC

Bagikan Postingan
Redaksi

Dapatkan berita terbaru dari Bakata.id dengan berlangganan notifikasi portal berita ini.

Recent Posts

Konsisten Gelar Operasi Katarak Gratis, Pupuk Kujang Ingin Berkontribusi Menurunkan Angka Kebutaan Masyarakat

JAKARTA | Pupuk Kujang, anak usaha Pupuk Indonesia (Persero) berkomitmen untuk terus berperan dalam pengentasan…

4 hours ago

17 Bangunan Rusak di Aceh Utara dan Lhokseumawe, Ini Sebabnya..

LHOKSUKON –Sebanyak 15 rumah hancur diterjang angin kencang Jumat (5/6/2026) di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi…

4 hours ago

Dua Kali Bencana, Hidup Seadanya di Pedalaman Aceh Utara…

LHOKSUKON – Sejumlah penyintas banjir di Desa Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi…

21 hours ago

Komisaris Utama dan Direktur Kelelembagaan & Kepatuhan Pertamina Patra Niaga Perkuat Pengawasan Operasional Infrastruktur Energi di Sumatera Barat

Padang – Pertamina Patra Niaga melaksanakan kegiatan Management Walkthrough (MWT) pada 1 s.d 3 Juni…

21 hours ago

BMKG Minta Warga Waspada, 85 Hutara Rusak Karena Angin Kencang di Aceh Utara

LHOKSUKON – Badan Metreologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan warga Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh…

2 days ago

TP PKK Aceh Timur Lakukan Pembinaan dan Evaluasi 10 Program Pokok PKK di Gampong Paya Lipah

PEUREULAK – Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Aceh Timur, Lismawani Iskandar Al-Farlaky, melakukan kunjungan kerja…

2 days ago

This website uses cookies.