Categories: Galeri

FOTO : Rapa’i, Perkusi Nyaring dari Kulit Kambing Betina Aceh

“Hanya kulit kambing yang bisa keluarkan suara bagus”, begitu kata Zunaidi si pengrajin alat musik tradisional rapa’i dari Lhokseumawe, Aceh.

Rapa’i merupakan salah satu alat musik tradisional khas Aceh yang kini sedang gencar untuk di lestarikan. Yang menjadikan alat musik perkusi ini sangat istimewa ini adalah suara yang dikeluarkannya bisa berbeda-beda, sangat bergantung bagaimana si penabuh memainkannya.

Rapa’i memiliki beberapa ukuran untuk diameternya. Untuk yang kecil atau disebut geleng dimainkan oleh anak-anak, dan uruh, rapa’i dengan ukuran lebih besar yang dimainkan orang dewasa. Kesenian bermain rapa’i kerap ditampilkan dalam satu grup berjumlah 12 orang bisa pula lebih.

Walau terlihat sangat mirip dengan rebana yang lebih populer di berbabagi daerah di Indonesia, namun rapa’i memiliki ketentuan khusus dalam pembuatannya. Rapa’i hanya dibuat dari kulit kambing. Belum cukup sampai disitu saja, kulit itu sendiri juga harus berasal dari kambing betina karena akan mempengaruhi karakter suara.


Dikeringkan Dengan Asap, Selama 6 Bulan
Ciri khas rapa’i adalah suaranya yang nyaring ketika ditabuh. Maka mendengar langsung grup penabuh rapa’i bermain kerap membuat dada berdebar karna irama dan nada kerasnya. Untuk membuat satu buah rapa’i memakan waktu 2,5 hari. Tapi itu saja belum cukup, pengrajin rapa’i pun harus sangat bersabar sebab harus menunggu kurang lebih 6 bulan lamanya.

Hal ini dikarenakan kulit kambing dikeringkan hanya menggunakan asap dari bakaran dalam satu tempat. Kenapa harus selama itu? Tentunya hal ini sangat berpengaruh pada hasil suara yang dihasilkan.

“Proses pengeringan tidak boleh terkena api, nanti kualitas kulit sama suara jadi jelek. Disini semua kulit proses sendiri, kalau beli kulit yang sudah dikeringkan sebelumnya,, itu sudah dikasih pengawet. Jadi gak bagus untuk dibuat rapa’i” kata Zunaidi.

Kebanyakan pemesan suka dengan motif kulit yang bercorak karna lebih unik. Harganya pun bisa jadi lebih mahal, sebab kulit bermotif tergolong jarang ditemui. Untuk pilihan kayu hanya memakai dua jenis kayu, merbau dan tualang.

Zunaidi menambahkan kalau di Aceh masih banyak pengrajin rapa’i. Tapi di Lhokseumawe sendiri sudah mulai berkurang. Dulunya pengrajin rapa’i di Lhokseumawe terbilang ramai, mereka adalah warga sekitar yang bahu membahu membuatnya. Namun sekarang hanya tinggal dia bersama ayah dan adiknya saja karena senagian memilih pekerjaan lain.

 

Kebanyakan pesanan berasal dari sanggar sanggar seni tradisional, sekolah dan beberapa pesanan dari luar Aceh. Seperti Jakarta sampai dengan negara tetangga, Malaysia. |PI

Bagikan Postingan
Redaksi

Dapatkan berita terbaru dari Bakata.id dengan berlangganan notifikasi portal berita ini.

Share
Published by
Redaksi

Recent Posts

Bupati Al-Farlaky Salurkan 118,9 Miliar untuk 5.318 Rumah Rusak di Aceh Timur

Pemerintah Kabupate Aceh Timur resmi menyalurkan Rp 118.935.000.000 atau 118,9 miliar bantuan dana u tuk…

12 hours ago

Ramai-ramai Warga Aceh Merubah Status Pekerjaan Demi Layanan Kesehatan Gratis

LHOKSEUMAWE – Ratusan masyarakat di Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh merubah status pekerjaan di Kartu Tanda…

16 hours ago

Dream Hill Villa Bur Telege by Calandra Takengon Tawarkan Penginapan Terjangkau dengan Panorama Alam Memukau di Kabupaten Aceh Tengah

Bur Telege kini semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di dataran tinggi Gayo.…

18 hours ago

Bupati Al Farlaky Peusijuek Jamaah Haji 2026, Titip Doa untuk Daerah dan Kepemimpinannya

ACEH TIMUR – Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I, M.Si melakukan Peusijuek  calon jamaah haji…

2 days ago

Kajari dan Ayahwa Potong Senjata di Aceh Utara

ACEH UTARA- Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Utara memusnahkan barang bukti 77 perkara tindak pidana umum…

2 days ago

Dinsos Aceh Utara Beberkan Penyebab Desil Masyarakat Berubah dan Tidak dapat Layanan Kesehatan Gratis

LHOKSUKON- Dinas Sosial Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh mengungkapkan temuan yang memicu penyebab status desil…

2 days ago

This website uses cookies.