Khadijah (50) warga Desa Blang Gunci, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, tak bisa berkata-kata panjang. Selama hampir tiga bulan, ibu paruh baya ini tidur di teras rumah. Dapur dan sebagian rumahnya amblas karena erosi Krueng (sungai) Keureuto 28 Juli 2020.
“Belum ada solusi apa pun dari pemerintah soal rumah,” kata Khadijah.
Wanita itu tak sendiri. Penderitaan yang sama dirasakan A Rasyid T (70). Kakek ini bersama anak dan cucunya tidur di bagian depan rumah. Separuh rumahnya amblas ke sungai. Di usia senja, saat dia berharap bisa ibadah dengan nyaman di rumah. Malah kini merasakan kecemasan saban waktu.
Kapan sisa rumah itu amblas lagi akibat erosi sungai yang kian mengganas.
Kepala Desa Blang Gunci, Samsul Kamal, kepada wartawan di lokasi, Sabtu (12/9/2020) menyebutkan tak punya solusi buat warganya itu.
“Saya takt ahu mau gimana lagi. Mau kita ungsikan Kek Rasyid juga tak ada tempat,” kata Samsul.
Sebagai kepala desa, Samsul sudah berdiskusi dengan warga korban erosi sungai. Korban masih bertahan di rumah, karena tak punya pilihan lain. Alternatif pengungsian di meunasah (mushalla). Namun itu pun tak memungkinkan. Pasti dibutuhkan waktu lama untuk mengungsi.
“Sampai sekarang belum tahu kapan dibangun bronjong pemecah aliran sungai itu. Agar erosi tak merusak kebun dan rumah warga. Maka, tak bagus juga kalau mengungsi ke meunasah. Kalau dalam waktu lama, tak mungkin,” kata Samsul.
Selain dua korban itu, ada empat rumah warga lainnya mengalami nasib serupa.Mereka adalah Wardiah (60), Ismail (75), Hafasah (50) dan Umar (38).
Jika tak ditangani, kata Samsul, bukan tidak mungkin jalan utama desa juga terdampak erosi sungai. Saat ini, jalan dan sungai terpaut 10 meter. Jalan utama desa inilah yang digunakan untuk menuju Waduk Jokowi, waduk terbesar di Aceh Utara untuk mengatasi banjir.
Waduk ini diberinama Jokowi, karena diresmikan Presiden Joko Widodo dua tahun lalu.
“Korban selama ini hanya diberi sembako (sembilan bahan pokok) dari dinas sosial, beras bulog 50 kilogram bagi tiga rumah yang terparah, minyak, peralatan salat dan gula,” sebutnya.
Warga butuh tenda darurat, agar bisa digunakan sebagai lokasi tidur sementara waktu.
“Kadang saya tak enak selalu mengeluh soal erosi ini pada pemerintah. Namun mau bagaimana lagi, ini belum teratasi,” katanya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara, Amir Hamzah mengaku sudah turun ke lokasi. “Kami usulkan ke pemerintah Provinsi Aceh dan pemerintah pusat soal bantuan rumah dan lainnya. Butuh waktu untuk realisasi usulan itu,” pungkasnya.
Kini, warga menunggu bantuan rumah sebagai ganti rumah yang telah hancur itu. Mereka dibekap harap-harap cemas sepanjang hari di pinggiran Krueng Keureuto.
|KCM
LHOKSUKON– Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh memberlakukan kurikulum darurat untuk sekolah…
ACEH TIMUR — Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, melantik Pengurus Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi…
LHOKSUKON – Sejumlah penyintas banjir duduk di dalam hunian sementara (Huntara) di Desa Matang Bayu,…
Keuchik (Kepala Desa) Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Mansur, mendesak pemerintah…
MALAYSIA - Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) terus memperkuat peran strategisnya dalam pengembangan pendidikan tinggi vokasi…
Padang– Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) melalui Integrated Terminal (IT) Teluk Kabung…
This website uses cookies.